Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Ke Mana Mas Agus?

oleh: Senjana Jingga Angin mengguncang tenda, tiada lebih gempar dari teriakan tengah malam di luar, waktu hujan menampar-nampar Dari balik kabut likat Seruan juga tanya tak terjawab Aku menggigil, Mas Agus mereka panggil-panggil tapi yang terdengar hanya sapuan angin pada kerikil (Maret, 2016)

Senjana Jingga

Aku menamaimu Senjana Jingga. Tahu kenapa? Karena kecintaanku pada senja, ternyata hinggap padamu juga. Tapi seperti senja, kamu hanya berani berdiri di kejauhan saja. Aku tidak bisa mengantongimu, Senja ... atau kulipat dalam amplop. Tidak seperti yang dibilang Seno Gumira Ajidarma.  Sudah, tak apa ... Namun tentu kamu tahu, bahwa aku adalah penanti senja paling setia.  (Aisya, Sudut Sepi, 14-11-2015)

Mimpi Sebuah Dunia

Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh dan pemuda, bangkit dan berkata - STOP semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apapun. Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi ras benci pada siapa pun, Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi, yang tak pernah akan datang. Salem, 29 Oktober 1968 - Soe Hok-gie - 

Sore, Enam Belas Maret Dua Ribu Sebelas

Kemarin, ketika aku merasa semakin dekat dengan dunia nyata, langit begitu indah. warna birunya berpadu dengan awan kelabu dan semburat jingga, menaungi lampu kota yang remang menyinari antrian padat kendaraan di jalanan basah ibu kota. Ohhhh.... terasa begitu romantis, tetapi hampa. -senjana jingga-

Rasa yang Membuncah

KEPADA SIAPA Kepada siapa beban kurebahkan tidur sejenak disela hati yang kelelahan dalam suara bergetaran akan sampaikah keluh kucurahkan terhanyut dalam pekat kalbu kelam di sana lah cinta itu padam setan pun berpesta pora merayakan dengki yang membara HABIS KATA Kata berjingkrak di udara ia bergeliat lalu hangus tak berkerak terbakar diam, kata melarat KEPADA PRIA YANG DIAM Kepada pria yang diam beralaskan bingung serta merta kau padam oleh kata-kata yang mendengung membiru cahaya pandangmu menjeratku ke dalam mimpi nyatanya itu jebakan yang kau ramu untuk menghantarku ke alam sepi TENTANG-MU Tengadah ke langit merah senja berkerlap-kerlip memudar perlahan di ufuk sana Kau turunkan sepi dalam gelap malam rindu datang kepagian Kau cipta ruang kosong penyebab rasa kehilangan Kau datangkan pagi  membesut secercah harapan Kau jadikan diriMu kebutuhan agar aku takluk mencariMu mengecap saripati ilmu yang Kau...

Dari Tiada ke Tiada (Soe Hok Gie)

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu atau bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra tapi aku ingin mati di sisimu sayangku setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu Mari sini, sayangku kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku tegaklah ke langit atau awan mendung kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth” - Walt Whitman

Murung

aku menunggu di ujung lorong kosong memanjang melolong kau merangkak lamban bak keong aku khawatir kau tak sampai di ujung lorong tempat aku menunggumu bersama cemas yang merongrong melihat pudar pada cita-cita yang dulu hendak kita songsong kau merangkak lebih lamban dari keong aku berlutut lemas, murung di ujung lorong

Prakata untuk Mul

Bertahanlah sejenak lagi disitu terus memacu sinergi postif dalam jiwa ragamu berusaha keras tanpa memberi ruang untuk berlama - lama patah semangat bersabar menjalani setiap proses kehidupan, jangan terlalu lama menoleh kebelakang, tatap ke depan dan berlari dua kali lebih cepat dari sebelumnya, beri senyum untuk setiap lawan mereka itu ego, emosi, dan arogansi pikiran alam bawah sadar percaya, kau yang harus menguasai mereka, bukan mereka atas mu.  Jadilah yang bersahaja. Setelah berusaha, ikhlaskan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Terima yang baik juga buruk dengan lapang dada. Niscaya kau akan melihat jalan - jalan pintas menuju bahagia yang dulu tak terlihat.

Antara kau, dia, dan aku

kau bilang dia itu teman paling sejati kau bakar, kau hisap, kau nikmati kau bilang dia itu kekasih yang paling setia selalu ada dikantong, mengikuti dimana pun kau berada tak kau lihat. aku jauh lebih setia menawarkan rasa yang paling sejati sejagad raya Lihat, dia senang dihisap oleh seluruh umat manusia tapi aku, hanya olehmu saja

Bagaimana Jadinya

Bagaimana jadinya jika senja tak lagi berjingga, jika malam tak lagi gelap, jika purnama tak lagi bercahaya, jika bintang tak lagi berpijar, jika matahari tak lagi bersinar, bisakah semua tetap berjalan?? dan bagaimana jika kata tak lagi bermakna, jika otak tak lagi bekerja, jika logika tak lagi dipercaya, jika hati tak lagi merasa, jika kaki tak lagi berjalan, jika tangan tak lagi memegang? Apa jadinya bila awan tak lagi bergerak bila angin tak lagi berhembus bila air tak lagi mengalir bila api tak lagi membakar bila bumi tak lagi berputar bila waktu tak lagi melaju bisakah aku tetap menjagamu? aku harap, hanya itu... (Senjana Jingga, 17.96.2009)

Penakluk Hasrat

entah apa yang harus kulakukan saat ini, aku berbaring terasa tak nyenyak aku berdiri terasa tak menapak aku berjalan terasa tertahan aku berlari terasa terjerat apa yang kurasakan benar - benar menggrogoti alam sadarku... sungguh, segelas kopi pekat telah kuserap segumpal asap rokok telah kuhisap sehampar langit malam telah kuingat tapi, ah, hanya keresahan yang kian melekat kamu, wahai penakluk hasrat, lepaskanlah aku dari kedataran malam yang merantai diri ini bebaskanlah aku dari keterjebakan hati yang menggundah ini bawalah aku keluar dari dimensi ruang yang membentengi pertemuan ini wahai penakluk hasrat, aku hanyalah pengagummu hanya itu... (Senjana Jingga, 10.07.09 3:24)

Hilang Tak dicari, Ada tak disyukuri

"Banyak orang tertawa tanpa mau menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf Shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang, ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering, dan hampa tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri ......." -Vitria Rachma Octorina- via commentar on the note "Tuhan Telah Mati" on Facebook.

MATI APA?

Mati, MatirasaMatihatiMatinafasMatiMatidanMati LampuMatilalugelapsepiMatiakalMatipikiranMatigaya MatimataMatijasmaniMatijiwaniMatirohaniMatimampus MatiyaMatilahsudah mau gimana lagi? Ya, Mati. >Sabtu November 21 2009<

Sabar

dan ini adalah wujud kertas saya goresan pena saya tak terlihat kata - kata saya sudah tak bernyawa saya kehabisan kata - kata tidak bisa kembali menuliskan cerita ada yang kosong di sana di pojok sana! di sebelah sisi sana juga! ternyata begini rasanya ketika kehabisan kata diam tak bernyawa. pedahal jiwa meronta - ronta ingin menggores gusar dengan pena melukiskan kata - kata bercerita. tapi habis sudah, tiada kata. mati rasa. mungkin, mungkin harus istirahat sementara. Memejam mata, mencari pasangan jiwa agar lukisan kata menyala....bernyawa, Aisya.

Tapi

Aku bawakan bukangan padamu Tapi kau bilang masih Aku bawakan resahku padamu Tapi kau bilang hanya Aku bawakan darahku padamu Tapi kau bilang cuma Aku bawakan mimpiku padamu Tapi kau bilang meski Aku bawakan dukaku padamu Tapi kau bilang tapi Aku bawakan mayatku padamu Tapi kau bilang hampir Aku bawakan arwahku padamu Tapi kau bilang kalau Tanpa apa aku datang padamu Wah ! _Sutardji Colzoum Bachri_

Meniti Jalan

Sobat, bersama kita menguntai asa di tanah tandus mengalir air mata Sobat, mari kita bergenggaman memijakkan kaki mendaki bukit mimpi Sobat, bersama kita berjuang keluar dari lubang jarum yang mengekang Sobat, teruslah tertawa selama kita meniti jalan bersama dalam mewujudkan asa kita