Langsung ke konten utama

Postingan

Finaly I got my Short-Hair back again!!!

Setelah berbulan - bulan terkatung - katung dengan rambut rarewig teu puguh, ngocar ngacir kesana kesini, kucel, dan ngembang. Saya mendapatkan kucuran dana untuk memangkas rambut menyebalkan itu. Saya ingin coba punya rambut panjang sebenarnya, tapi proses memanjangkan rambut itu pain in the ass buat saya. Mensch, beauty is (real) pain . Ya sudah, saya memang di takdirkan untuk terus kembali ke wujud tampan saya. Kalau saya ngga punya boops yang begitu jelas menonjol nih, saya yakin bisa menggaet cewek mana aja yang saya mau. hahahahahaha. APeuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

Hilang Tak dicari, Ada tak disyukuri

"Banyak orang tertawa tanpa mau menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf Shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang, ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering, dan hampa tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri ......." -Vitria Rachma Octorina- via commentar on the note "Tuhan Telah Mati" on Facebook.

MATI APA?

Mati, MatirasaMatihatiMatinafasMatiMatidanMati LampuMatilalugelapsepiMatiakalMatipikiranMatigaya MatimataMatijasmaniMatijiwaniMatirohaniMatimampus MatiyaMatilahsudah mau gimana lagi? Ya, Mati. >Sabtu November 21 2009<

Sabar

dan ini adalah wujud kertas saya goresan pena saya tak terlihat kata - kata saya sudah tak bernyawa saya kehabisan kata - kata tidak bisa kembali menuliskan cerita ada yang kosong di sana di pojok sana! di sebelah sisi sana juga! ternyata begini rasanya ketika kehabisan kata diam tak bernyawa. pedahal jiwa meronta - ronta ingin menggores gusar dengan pena melukiskan kata - kata bercerita. tapi habis sudah, tiada kata. mati rasa. mungkin, mungkin harus istirahat sementara. Memejam mata, mencari pasangan jiwa agar lukisan kata menyala....bernyawa, Aisya.

HUNGRY SOUL

Berangkat dari sebuah sabtu sore sehabis hujan mengguyur deras kota Bandung. Sore hari yang dingin dan basah membuat semua bulu - bulu di tangan saya berdiri merinding. Setelah duduk - duduk berdampingan, tertawa, ngacapruk , di sebuah beranda ruangan rumah sakit, memberikan support kami sebagai seorang sahabat kepada Mas Cacandran Jayabaya yang saat itu menjaga ayahnya dirawat di rumah sakit akibat penyakit jantung koroner, saya dan teman saya yang Merdeka pulang berburu sesuatu yang hangat dan mengenyangkan.