Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Tua-Tua Keladi

Setelah melewati kemacetan Kebon Kalapa yang aduhai..hai..hai.. aduh padatnya, saya turun di pertigaan jalan Suniaraja-Otista-Kebon Jati. Dari situ saya mantap berjalan kaki ke jalan Kebon Jati, melawan arus kendaraan. Jalanan ini cukup padat juga, selain satu arah, banyak pedagang kaki lima di trotoar, juga angkot-angkot yang ngetem karena ada sekolahan di sini. Ruwet banget deh... matahari siang bolong terik, pedahal sewaktu saya berangkat dari rumah itu mendung loh...wah! Teruuuuuus saya berjalan naik turun trotoar, menembus kerumunan anak sekolahan, sampai di bangunan tua sebuah pabrik kopi. Ya, Javaco .

Menikmati Keheningan di dalam Teko

Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di teko. Tempat ini masih sama sepinya dengan dulu-dulu, tiap saya berkunjung, tak ada pengunjung lain dan tiap kali saya berkunjung, selalu saja cuma ada uang pas-pas an di dalam dompet. Tempat ini terletak di Jl. Neglasari, kawasan Ciumbuleuit (hayooo...yang bukan orang sunda pasti belibet ngomongnya. heuheu), memang agak terpencil tempatnya. Saya tidak tahu kapan waktu ramai dari tempat ini ya? Yah...terserah, saya suka tempat ini tetap hening. Speciality di tempat ini memang minuman teh, berbagai jenis teh ditawarkan dalam daftar menu dan dihidangkan dengan gelas unik dan teko. Enak. Makanannya ada kue-kue belanda dan lainnya. Pertama kali saya ke sini, bersama sepupu dan si comro, kami memesan teh jasmine. Tapi ini kali bersama si comro, saya pengen ngopi.

Akhirnya...

Dan akhirnya, berakhir sudahlah status saya sebagai mahasiswa di hari rabu, 6 April kemarin. Setelah berada di ruang sidang yang penuh dengan pertanyaan selama satu jam dan yudisium yang setengah jam, akhirnya saya lulus dengan predikat sangat memuaskan. Pedahal waktu sidangnya saya blepotan ngomong bahasa jerman, kadang kata kerjanya aja ketinggalan.

Menyukseskan Korupsi di Perpus Sastra

Ada syarat-syarat yang diberlakukan untuk mengikuti ujian sidang skripsi di fakultas saya, diantaranya surat keterangan bebas pinjaman dari perpustakaan fakultas. Untuk mendapatkan surat keterangan itu, maka setiap mahasiswa diharuskan menyumbang dua buku dengan tema, minimal halaman, dan minimal tahun terbit yang sudah ditentukan. Sayangnya setelah ada persyaratan buku yang harus disumbangkan itu, tetap saja dipersulit.

Mimpi Sebuah Dunia

Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh dan pemuda, bangkit dan berkata - STOP semua kemunafikan, Stop semua pembunuhan atas nama apapun. Dan para politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras, buat anak-anak yang lapar di tiga benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi ras benci pada siapa pun, Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik. Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi, yang tak pernah akan datang. Salem, 29 Oktober 1968 - Soe Hok-gie - 

Bangsa Budak, Bangsa Pecundang

Hati miris saat membaca kolom yang ditulis Wilujeng Kharisma di rubrik OPINI koran Pikiran Rakyat edisi Kamis, 17 Maret 2011 . Dari judul langsung membuat saya tertarik membacanya: Bangsa Pecundang . Sang penulis menceritakan pengalamannya saat mendengarkan pidato Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dalam rangka panen raya di Karawang. Adi Sasono menyebutkan, bangsa kita sedang menuju bangsa pecundang. Setelah sang Penulis menelaah lebih lanjut pidato dari Adi Sasono tersebut, memang sulit dipungkiri kalau kita perlahan bergerak menuju bangsa pecundang.

Sore, Enam Belas Maret Dua Ribu Sebelas

Kemarin, ketika aku merasa semakin dekat dengan dunia nyata, langit begitu indah. warna birunya berpadu dengan awan kelabu dan semburat jingga, menaungi lampu kota yang remang menyinari antrian padat kendaraan di jalanan basah ibu kota. Ohhhh.... terasa begitu romantis, tetapi hampa. -senjana jingga-