Search This Blog

Loading...

10.2.12

Kabar, Lama tak Menulis

Saya kehilangan kemampuan menulis. Seperti ada yang menyumbat aliran darah segar ke otak, hingga pikiran saya tak berbuah. Rasanya seperti terserang hama, membuat saya cukup lama vakum dari dunia tulis menulis. Mencoba memutar kotak memori beberapa bulan ke belakang, hari-hari saya dipenuhi kegiatan lembur dari kantor. Lembur terasa melelahkan, jika hasilnya tak terasa nyata. Pernah saya berlaku "nakal" bersama teman-teman sekantor, ketika waktu lembur kami pergunakan untuk berfoto ria (yang tentunya dilakukan secara bergerilya).

2.10.11

Laporan Lebaran yang Lalu

Walungan zaman dulu...
Foto ini diambil sekitar 18 tahun yang lalu, waktu saya masih berusia 5 tahun. Ini di desa ayah saya. Di Cikaso, Banjarsari. Dulu sih, waktu kakek dan nenek saya masih ada, hampir setiap kali lebaran saya dan keluarga pasti ke sana. Namun, setelah mereka pindah rumah ke tanah 2x1 meter, otomatis kami jarang berkunjung. Berhubung keluarga ada di Bandung semua dan ayah saya adalah yang di-tua-kan dalam keluarga.

26.9.11

Malam ini, malam kopi luwak

Lelah lalu merebah. Bersama ayah, pulang kerja lembur saya menikmati secangkir kopi agar lebih relax. Kebetulan saya kecipratan rezeki. Abang ipar saya rela berbagi setengah kopi luwak yang dikirim temannya dari Medan. Paling nikmat menikmati kopi bersama ayah sembari ngobrol ngaler ngidul, bercengkrama.

16.9.11

Kembali ke Kesibukan

Belum sempat saya memostingkan kegiatan liburan lebaran tentang kampung halaman ayah yang sudah lima tahun lebih tidak kami (keluarga saya-read) sambangi, hibernasi saya ternyata dibangunkan oleh sibuknya kembali divisi publishing di tempat saya bekerja. ada project-project buku yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu satu bulan ke depan.

26.7.11

Solo di Kiara Payung

Hai, Blog, apa kabar? kalau ibarat barang, kamu sepertinya sudah mulai berdebu seperti benda-benda yang lama tak terpakai. Lama ya, saya menelantarkan kamu.

Saya memutuskan untuk berkeliling kiara payung saat yang lain sibuk makan di sebuah pendopo di kiara payung. Saya memang sering merasa tidak nyaman berada di tengah keramaian orang-orang yang saya tahu tapi tidak begitu saya kenal. Akhirnya saya berkeliling sendiri.


31.5.11

Sejarah 24 Mei 2011

Saya sudah ada di salon sejak jam setengah 6 pagi. Hari di tanggal 24 Mei 2011 merupakan hari bersejarah untuk saya dan mungkin juga untuk sebagian besar orang lainnya yang diwisuda hari itu.

Orang tua saya tersenyum lega, seakan beban yang menggelayut selama ini terbang begitu saja.

23.5.11

Kemarin dan Besok

Saya bekerja menjadi Editor di sebuah penerbitan buku pelajaran di Bandung. Beberapa hari ini mengisi malam dengan berlembur di kantor. Besok saya wisuda. Pakai toga, baret, diiring orang tua. Ada yang kontras. Sudah sebulan meninggalkan dunia mahasiswa yang penuh gundah gulana dan idealisme intelek muda. Terasa manis dan menyedihkan. Saya belum terbiasa atau mungkin saya belum mau membiasakan diri. Kemarin terasa semakin jauh, besok tak terasa datang dengan cepat. Kemarin dan besok. Lorong demi lorong. Aneh sekali. Sungguh sungguh aneh. Saya memalingkan muka dari besok, memandang lirih pada kemarin. Dia berjalan mundur menjauhi saya.

11.5.11

Sinetron Liga Super Indonesia

Penuh drama, intrik, juga rekayasa. Itulah wajah sepak bola Indonesia. Berawal dari kekecewaan saya atas hasil imbang Persib Bandung di stadion Gelora Bumi Kartini sabtu (7/5/2011) saat dijamu Persijap Jepara. Persib Bandung pantas memenangkan pertandingan dengan skor 1-2, namun apa dikata, skenario sudah dirancang dan pada menit ke-54 Persib dipaksa merelakan gol yang dicetak Christian Gonzales, dianulir wasit. Hakim garis mengangkat bendera yang menyatakan Gonzales offside, namun tayangan replay menyatakan lain. Dalam tayangan replay tersebut terlihat jelas bahwa Gonzales onside, ia tidak menunggu bola, ia mengejar bola. Sungguh mengecewakan. Balada wasit yang memihak tuan rumah pun terus menerus terjadi, mereka tidak peduli seakan-akan tidak ada jutaan pasang mata yang menjadi saksi buruknya kinerja wasit LSI. Seorang pemain profesional dunia, Mateja Kezman (mantan striker Chelsea dan Juventus) menghina liga AFC, bahwa AFC adalah liga buruk dan bodoh, saat timnya bertandang ke markas Persipura. Ia melihat bagaimana wasit cenderung menguntungkan tuan rumah. AFC saja dihina, apalagi kalau Kezman itu melihat sepakbola Indonesia, barangkali ia akan bilang, LSI adalah liga orang-orang idiot.

13.4.11

Yang Tua-Tua Keladi

Setelah melewati kemacetan Kebon Kalapa yang aduhai..hai..hai.. aduh padatnya, saya turun di pertigaan jalan Suniaraja-Otista-Kebon Jati. Dari situ saya mantap berjalan kaki ke jalan Kebon Jati, melawan arus kendaraan. Jalanan ini cukup padat juga, selain satu arah, banyak pedagang kaki lima di trotoar, juga angkot-angkot yang ngetem karena ada sekolahan di sini. Ruwet banget deh... matahari siang bolong terik, pedahal sewaktu saya berangkat dari rumah itu mendung loh...wah! Teruuuuuus saya berjalan naik turun trotoar, menembus kerumunan anak sekolahan, sampai di bangunan tua sebuah pabrik kopi. Ya, Javaco.

11.4.11

Menikmati Keheningan di dalam Teko

Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di teko. Tempat ini masih sama sepinya dengan dulu-dulu, tiap saya berkunjung, tak ada pengunjung lain dan tiap kali saya berkunjung, selalu saja cuma ada uang pas-pas an di dalam dompet. Tempat ini terletak di Jl. Neglasari, kawasan Ciumbuleuit (hayooo...yang bukan orang sunda pasti belibet ngomongnya. heuheu), memang agak terpencil tempatnya. Saya tidak tahu kapan waktu ramai dari tempat ini ya? Yah...terserah, saya suka tempat ini tetap hening. Speciality di tempat ini memang minuman teh, berbagai jenis teh ditawarkan dalam daftar menu dan dihidangkan dengan gelas unik dan teko. Enak. Makanannya ada kue-kue belanda dan lainnya. Pertama kali saya ke sini, bersama sepupu dan si comro, kami memesan teh jasmine. Tapi ini kali bersama si comro, saya pengen ngopi.

9.4.11

Akhirnya...

Dan akhirnya, berakhir sudahlah status saya sebagai mahasiswa di hari rabu, 6 April kemarin. Setelah berada di ruang sidang yang penuh dengan pertanyaan selama satu jam dan yudisium yang setengah jam, akhirnya saya lulus dengan predikat sangat memuaskan. Pedahal waktu sidangnya saya blepotan ngomong bahasa jerman, kadang kata kerjanya aja ketinggalan.

25.3.11

Menyukseskan Korupsi di Perpus Sastra

Ada syarat-syarat yang diberlakukan untuk mengikuti ujian sidang skripsi di fakultas saya, diantaranya surat keterangan bebas pinjaman dari perpustakaan fakultas. Untuk mendapatkan surat keterangan itu, maka setiap mahasiswa diharuskan menyumbang dua buku dengan tema, minimal halaman, dan minimal tahun terbit yang sudah ditentukan. Sayangnya setelah ada persyaratan buku yang harus disumbangkan itu, tetap saja dipersulit.

22.3.11

Mimpi Sebuah Dunia

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
di mana ulama - buruh dan pemuda,
bangkit dan berkata - STOP semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apapun.

Dan para politisi di PBB,
sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,
buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi ras benci pada siapa pun,
Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa apa pun.

Dan melupakan perang dan kebencian,
dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia
yang lebih baik.

Tuhan - Saya mimpi tentang dunia tadi,
yang tak pernah akan datang.


Salem, 29 Oktober 1968
- Soe Hok-gie - 

20.3.11

Bangsa Budak, Bangsa Pecundang

Hati miris saat membaca kolom yang ditulis Wilujeng Kharisma di rubrik OPINI koran Pikiran Rakyat edisi Kamis, 17 Maret 2011. Dari judul langsung membuat saya tertarik membacanya: Bangsa Pecundang. Sang penulis menceritakan pengalamannya saat mendengarkan pidato Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dalam rangka panen raya di Karawang. Adi Sasono menyebutkan, bangsa kita sedang menuju bangsa pecundang. Setelah sang Penulis menelaah lebih lanjut pidato dari Adi Sasono tersebut, memang sulit dipungkiri kalau kita perlahan bergerak menuju bangsa pecundang.