Label

28.4.16

Hari Ini, Hari Chairil Anwar: Mengenang Sang Pujangga Nakal

Bolehlah saya mengatakan kalau Chairil Anwar adalah penyair paling mencolok, paling mahsyur di Indonesia. Gaung namanya tak lekang oleh waktu. Tak perduli kamu suka sastra atau tidak, nama Chairil Anwar pasti pernah mendarat di telingamu. Salah satu puisinya pernah kamu baca, meski sebatas di buku pelajaran SMP/SMA. Iya 'kan?


Baca Selengkapnya >>

Senggama Sastra dan Lagu Lama

Pagi menjelang siang tapi belum waktunya untuk menjemput si kecil pulang. Pada rongga waktu itu saya isi dengan membaca buku. Setelah terhempas gelombang kehidupan, saya sering kali merasa kosong. Lalu saya menceburkan diri ke dunia baca, terutama karya sastra Indonesia. Ada yang mudah dimaknai, adapula yang kalimatnya perlu dibaca berulang kali.

Lalu saya duduk di kursi dan membuka buku. Tiba-tiba saya ingin menambahkan suasana. Saya memilah-milih kumpulan lagu dalam iPod. Bosan, hingga teringat ada kebiasaan lama yang ingin saya lakukan. Ya, mendengarkan radio. Saya nyalakan radio dan mengarahkan transistornya ke saluran 91.7 FM, namanya INB Radio Bandung.

Dulu tak sengaja menemukan saluran tersebut, menjadikannya station favorit. Ternyata....

Baca Selengkapnya >>

24.4.16

Soal Film "Kejarlah Daku Kau Kutangkap"

"Kau pernah dengar, permainan perempuan yang namanya Kejar Daku, Kejar Daku, Kau Kutangkap? Dalam permainan itu seorang laki-laki merasa dirinya mengejar seorang perempuan, tetapi anehnya yang tertangkap justru dirinya sendiri."

Kira-kira begitu ucap Markum pada kepnakannya, Ramadan, yang tengah dimabuk asmara dan baru saja melamar Mona, wanita yang belum lama dikenalnya. Penggalan dialog tersebut diambil dari film komedi-romantis "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" yang rilis tahun 1985.

Chaerul Umam bertindak sebagai sutradara. Sedangkan ide cerita dan penulis skenarionya adalah Asrul Sani. Seorang sastrawan angkatan '45 yang melambung namanya setelah buku kumpulan puisi "Tiga Menguak Takdir" yang ditulisnya bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Tak heran dialog-dialog film ini cukup menyentil.

Baca selengkapnya >>

Ke Mana Mas Agus?

oleh: Senjana Jingga

Angin mengguncang tenda,
tiada lebih gempar
dari teriakan tengah malam di luar,
waktu hujan menampar-nampar

Dari balik kabut likat
Seruan juga tanya tak terjawab

Aku menggigil,
Mas Agus mereka panggil-panggil
tapi yang terdengar hanya sapuan angin pada kerikil

(Maret, 2016)

18.4.16

Senjana Jingga

Aku menamaimu Senjana Jingga.
Tahu kenapa?
Karena kecintaanku pada senja, ternyata hinggap padamu juga.
Tapi seperti senja, kamu hanya berani berdiri di kejauhan saja.
Aku tidak bisa mengantongimu, Senja ...
atau kulipat dalam amplop.
Tidak seperti yang dibilang Seno Gumira Ajidarma. 
Sudah, tak apa ...
Namun tentu kamu tahu, bahwa aku adalah penanti senja
paling setia. 

(Aisya, Sudut Sepi, 14-11-2015)

Nostalgia Itu Pemberontakan


Siapa yang tak tahu nostalgia? Ah, mayoritas manusia pasti tahu nostalgia. Umumnya dari mereka, pun pernah bernostalgia; ditemkani secangkir teh di sore hari misalnya. Memori berputar balik, mengawang-awang ke masa lalu sembari dihujani cahaya senja yang memberi efek sephia.

Nostalgia adalah pemberontakan saya, terhadap laju zaman yang tak lagi memberi romantisme dalam berkehidupan.

Lanjut baca di: Senjanaavonturir

17.4.16

Judulnya Lari ...


Alam bukan sahabat asing bagi lima perempuan itu. Hobi mereka memang menapaki punggung-punggung gunung, Mereka tahu pasti bahwa kesiapan fisik mutlak diperlukan saat ingin bercengkrama bersama alam. Tapi teori tinggallah teori. Judulnya Manglayang Trail Running yang didukung beberapa sponsor. Sebelum acara maraton dimulai, satu perempuan dengan badan jangkung dan paling proposional sibuk mencari double tip. Ternyata sol sepatunya menganga. Apa ini pertanda? Apa tak usah bermaraton saja?

Baca kelanjutannya di Senjanaavonturir.

22.8.15

Rinjani, A Joy and A Loss (Part 2)


Perjalanan di Rinjani memang panjang. Mulai dari Pos II Sembalun, bahu sudah mulai tak nyaman. Satu per satu barang tidak penting ditinggalkan di bale-bale setiap pos peristirahatan. Perjalan di Rinjani memang panjang. Melihat Segara Anak dari dekat sungguh mengharukan dan tentu bikin jelalatan saking banyaknya bule berpakaian renang. Meski keindahan tersebut nyaris hilang akibat salah jalan, nyasar hingga tepi jurang. Makanya lain kali janganlah paksakan untuk berjalan malam. Selain lebih melelahkan, juga suasananya terlalu mencekam. Ternyata Tuhan masih sayang dan beruntunglah kita, Comro, bertemu orang yang mau menunjukan jalur benar.

Baca kelanjutannya di Rinjani, A Joy and A Loss (Part 2)

2.11.14

RINJANI, A JOY AND A LOSS


Pada satu kesempatan saya pernah mengatakan satu keinginan pada si Comro untuk memperingati bersama pengulangan tanggal kelahiran alias ulang tahun di Rinjani. Kebetulan tanggal kelahiran kami hanya berbeda 4 hari, dia 6 dan saya 10. Tapi Gunung Rinjani jauh ya, berhubung saya di Bandung, dan saat itu kami masih mahasiswa tingkat akhir. Pertama ngga punya uang, kedua ada yang harus diprioritaskan. Yes, skripsi!
Dua tahun setelah kelulusan, setelah masing-masing berjuang mengisi dompet sendiri, Comro menghubungi saya dengan coolnya bilang, "kamu nabung ya. Kita ke Rinjani.".
Tentu saja saya menjawabnya dengan, "Oke. kapan?"
"Mei." begitu jawabnya. Tapi ternyata saya tidak bisa menabung dengan baik. Situasi finansial sedang carut marut dan rupiah-rupiah itu tak bisa diam di satu tempat. Pendek kata uang saya tidak cukup untuk pergi. Tapi Comro sudah bertekad kami harus pergi. "Kamu ngga usah pikirin. Siap-siap aja.". Setengah senang, seperempat tak enak hati dan seperempat lagi malu luar biasa. Comro mengirim email yang berisi tiket pesawat dari Bandung ke Denpasar. Di sana tertulis tanggal 4 kami berangkat, tapi Comro berangkatnya dari Balikpapan dan meeting point kami tentu saja di Ngurah Rai. Ini adalah kali kedua saya mendaki gunung, setelah Semeru di tahun 2010. Saya maupun Comro baru pertama kali ke Rinjani, saya sendiri dengan bodohnya tidak membekali diri dengan persiapan fisik dan informasi detail mengenai perjalan kali ini.

9.7.14

LIBURAN KELUARGA PERTAMA


Apa boleh dikata, Pangandaran adalah pantai yang paling dekat dan mudah dijangkau dari Bandung. Saya dan keluarga sudah tak asing dengan pantai selatan ini, kebetulan Bapak saya kelahiran Banjarsari, sehingga perjalanan ke Pangandaran bagaikan pulang kampung bagi kami. 

A TRIBUTE TO COSTA RICA

Picture: http://idpict.com/
Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada para fans Jerman yang timnya sukses membombardir Brazil 1 - 7 di rumah sendiri. Bukannya saya membela Jerman, tapi sejak pertama kali menggandrungi sepak bola tahun 1998, saya memang langsung tidak suka Brazil. Seciamik apapun mereka main, saya yang masih duduk di bangku SD kala itu begitu rasis. Saya tidak suka tim yang banyak dihuni pemain berkulit hitam dengan wajah yang tak menarik. hahahaha... Tapi sekarang, berbeda. Masih tetap tidak suka Brazil, karena mereka sudah terlalu sering juara. Kalau juara lagi 2014 ini, akan membosankan. Selain itu sepanjang Piala Dunia kali ini, banyak kemenangan Brazil dipengaruhi keputusan wasit. Pertama saat seri melawan Meksiko di fase grup, hingga yang terakhir ketika kontra Kolombia, dimana gol tim kuda hitam Kolombia harus dianulir pedahal seharusnya sah. Jadi kekalahan 1 - 7 dari Jerman adalah harga yag pantas untuk "kecurangan" Brazil.

1.5.12

Usaha Sampingan

Cyber Shopping masih newbie. Hahaha...saya mencoba mencari peluang di tengah himpitan kebutuhan ekonomi. Meski masih awam dan coba-coba, akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba bisnis online ini, meski masih setingkat reseller/dropshipper. Lah, yang penting mah halal. betul? Di sela-sela waktu luang sebagai petani jamur, saya belajar bisnis dunia maya ini yang sebetulnya modal paling besar dan sulit di dapat adalah kepercayaan konsumen. Tapi, seperti Bang Beni bilang, "sabar...". Semua usaha memang harus didasari dengan kesabaran dan ketekunan. Dua hal yang sebetulnya paling sulit saya terapkan. Tapi di dunia baru saya sekarang, baik itu sebagai petani jamur dan pedagang online, saya harus belajar dan terbiasa menerapkan dua hal itu. Tuhan, berkati saya ya!!


Follow dan visit Cyber Shopping sekarang ya... :D

24.4.12

Work and Hope

Banting setir dari sastra ke pertanian adalah pilihan. Mulai dari nol pengetahuan dan nol pengalaman, saya ngeureuyeuh (istilah sunda untuk memulai dari nol) untuk menjadi manusia yang lebih produktifdan lebih bahagia tentu saja. Meninggalkan dunia perkantoran yang sebetulnya bisa memberi kepastian pendapatan per bulan dan sangat memungkinkan untuk menabung, sekarang menempuh dunia usaha sendiri di bidang budidaya jamur tiram yang masih buram. Budidaya ini saya kelola sendiri, di bantu buruh tani harian yang berkeliaran di sekitar lokasi saya berbudidaya. Saya menimba ilmu dari pengalaman mereka dan petani-petani yang dengan senang hati menjadi tutor saya. Bukan hanya tentang teknik bagaimana budidaya jamur tiram itu, tapi juga tentang bagaimana saya harus berhadapan dengan bandar yang setiap harinya mengumpulkan hasil panen kami (para petani).

10.2.12

Kabar, Lama tak Menulis

Saya kehilangan kemampuan menulis. Seperti ada yang menyumbat aliran darah segar ke otak, hingga pikiran saya tak berbuah. Rasanya seperti terserang hama, membuat saya cukup lama vakum dari dunia tulis menulis. Mencoba memutar kotak memori beberapa bulan ke belakang, hari-hari saya dipenuhi kegiatan lembur dari kantor. Lembur terasa melelahkan, jika hasilnya tak terasa nyata. Pernah saya berlaku "nakal" bersama teman-teman sekantor, ketika waktu lembur kami pergunakan untuk berfoto ria (yang tentunya dilakukan secara bergerilya).

2.10.11

Laporan Lebaran yang Lalu

Walungan zaman dulu...
Foto ini diambil sekitar 18 tahun yang lalu, waktu saya masih berusia 5 tahun. Ini di desa ayah saya, Cikaso, Banjarsari. Dulu sih, waktu kakek dan nenek saya masih ada, hampir setiap kali lebaran saya dan keluarga pasti ke sana. Namun, setelah mereka pindah rumah ke tanah 2x1 meter, otomatis kami jarang berkunjung. Berhubung keluarga ada di Bandung semua dan ayah saya adalah yang di-tua-kan dalam keluarga.