Langsung ke konten utama

Hari Yang Berat

Rabu, 14 Januari 2009. Saya rasa teman - teman saya pasti setuju kalau saya bilang hari ini adalah hari yang berat. Sungguh hari yang berat. Ini hari adalah pertarungan "hidup dan mati" saya di dunia perkuliahan. Saya belum tau hasilnya, apakah saya kalah atau menang dari pertarungan itu. Namun rasa - rasanya saya mencium aroma kekalahan...


Hari ini UAS Theorie und Praxis der Übersetzsung I a.k.a TUP dan Angewandte Grammatik I a.k.a AG. Huhhh! dua mata kuliah yang paling sentral dan paling bikin gila autis ( di samping itu juga ada Deutsche Prosa a.k.a DP-nya Jutta Kunze ) di semester ganjil ini. TUP dengan setumpuk fotocopy-an nya itu isinya harus ada di luar kepala dan AG justru tidak ada bahan hafalan tapi sangat menuntut otak dan naluri bekerja tepat.
Sialnya, kenapa sih dua mata kuliah ini waktu UAS nya harus di hari yang sama?! Gosh...saya bener - bener keteteran dalam persiapan dua mata kuliah ini. Semaleman saya baca fotocopyan TUP saya, tapi tidak satu kata pun saya paham apa maksudnya. Jadilah pagi - pagi sebelum ujian, di kampus setelah teman - teman seperjuangan saya selesai UAS SA3 ( Schriftlicher Ausdrueck 3 ) kita belajar TUP bareng - bareng. Mengacu pada soal - soal UAS tahun kemarin, kita mulai membuat catatan kecil untuk bisa menghafal lebih efektiv ( catatan kecil bisa berfungsi juga sebagai contekan kalau udah kepepet ). Kita nyatet, kita hafalin bareng - bareng. Alhasil, kita cuma ngafalin TUP doang hari ini, AG sama sekali ngga sempet belajar. Pas UAS TUP, soal-nya sedikit berbeda dari yang tahun kemarin, tapi thanks God soal-nya ngga begitu sulit. Kalau saya bilang ngga begitu sulit itu artinya saya berhasil menuliskan banyak kalimat panjang. hahahaha... kebenaran isi nya saya belum tahu.
Well, autis UAS TUP belum berakhir karena berlanjut AG. Hahahaha... teman - teman saya air muka nya sudah tidak menentu. Yang cantik jadi jelek, yang jelek makin jelek, yang pinter terlihat sangat linglung, yang dudul malah sangat linglung. Teman saya Robitho yang duduk di depan saya, beberapa kali menghela nafas aroma putus asa. Otak saya macet melihat soal - soal di kertas putih yang diberikan Ibu dosen. 25 nomer yang diberikan, tentang Partizipien als attribut juga als Relativ Satz. Banyak banget nomer yang ngga saya isi, nomer yang saya isi....as always, amat sangat tak terjamin kebenarannya. nah lho?! jadi UAS saya gimana???
Sekarang sih cuma bisa preparing for the worst but still hoping for the best. Memang benar peribahasa yang mengatakan, semakin tinggi gunung di daki, semakin terjal jurangnya, semakin kencang angin berhembus. Makin sini, mata kuliahnya makin bikin gila aja.
Sungguh hari yang berat.

Komentar

  1. semangat!
    sel-sel otak lo ga akan nyerah cuman gara-gara soal TUP ma AG!
    yoooooooo,hajar bleeehhh!!!

    LIA

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip to Malang - Semeru (Part 2)

Baca : Trip to Malang-Semeru (Part 1) Saya sampai di Ranupani (2.200m dpl) sekitar jam 4 sore, karena baru berangkat dari Tumpang sekitar jam 1 atau 2 siang. Setelah mengurus perizinan dan tetek bengek formalitas di Tumpang dan Ranupani, kami siap mendaki Semeru. Dari Tumpang ke Ranupani dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam naik Jeep. Selama perjalanan kita disuguhi panorama alam yang luar biasa indahnya. Tebing, perbukitan, lembah, padang savana yang luas, pedesaan tempat tinggal suku Tengger, serta Mahameru di kejauhan.

Yang Tua-Tua Keladi

Setelah melewati kemacetan Kebon Kalapa yang aduhai..hai..hai.. aduh padatnya, saya turun di pertigaan jalan Suniaraja-Otista-Kebon Jati. Dari situ saya mantap berjalan kaki ke jalan Kebon Jati, melawan arus kendaraan. Jalanan ini cukup padat juga, selain satu arah, banyak pedagang kaki lima di trotoar, juga angkot-angkot yang ngetem karena ada sekolahan di sini. Ruwet banget deh... matahari siang bolong terik, pedahal sewaktu saya berangkat dari rumah itu mendung loh...wah! Teruuuuuus saya berjalan naik turun trotoar, menembus kerumunan anak sekolahan, sampai di bangunan tua sebuah pabrik kopi. Ya, Javaco .

Ada yang Kesal

Hujan deras dan angin kencang mulai beraksi di luar. Saya duduk memandangi ponsel, berpikir sms apa yang akan saya kirim. Huh, bahkan saya tidak punya ide untuk menulis sms. Saya tidak menginginkan sms yang hanya berisikan pertanyaan, ‘sedang apa?’ Atau ‘sudah makan?’ Apalagi ‘di sini hujan. Di situ hujan juga?’. Sms yang hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’ dan hanya cerita yang tak berkelanjutan. Saya sadari betul saya butuh teman ngobrol, butuh teman untuk membunuh waktu, tapi sialnya saya tidak tahu topik apa yang enak untuk ngobrol.