Label

3.1.09

This is actually what I called: HOLIDAY

Liburan. Holiday. Urlaub, der. Itulah yang membuat hidup saya semangat.

Buat saya liburan berapa lama pun tidak pernah cukup. Hahahaha...pedahala kegiatan saya ngga seberapa. Cuma kuliah doang dan yeah...ada sih, beberapa kegiatan ekstra kaya main futsal dan belajar fotografi yang notabene hobi saya juga. Tapi liburan selalu mempunyai makna tersendiri. Terlepas dari rutinitas saya dan tempat saya hidup sepanjang hari. Kegiatan berlibur seperti angin surga dunia yang berhembus menerpa otak saya yang cepat sekali butek...



25 Desember 2008
Batukaras
Liburan natal ini saya pergi ke Batukaras di Pangandaran. Hmmmm....saya memang mencintai angin pantai dan biru laut. Ngga peduli kulit saya bertambah hitam karena sinar matahari pantai. Ke sana saya pergi sama dua teteh saya, Vini-Vitri, dan kakak ipar saya, Jim, menggunakan mobil pribadi yang mungil berwarna biru telor asin. Perjalanan yang di tempuh cukup panjang dari Bandung ke Batukaras. Waktu normalnya sih, 4-5 jam. Namun kita kejebak macet dulu di Cileunyi cuma gara - gara Pabrik dan pasar kaget. Kesananya jalanan lancar tapi sialnya lagi kita harus mampir bengkel dulu, si mobil telor asin ini bermasalah sama rem-nya. Kita menghabiskan waktu di bengkel selama 1 jam setengah! Alhasil berangkat dari Bandung jam setengah enam pagi dan sampai di Batukaras jam 2 siang. Sebelumnya kita mampir dulu di Pangandaran buat jemput anak temannya Jim, Scott. Udah gitu bapanya nitip barang – barangnya pula di mobil kita. Sekedar informasi ngga penting, mobil kita penuh banget. Di bagasi udah penuh sama tenda dan sleeping bag gede dan entah kenapa si Jim kayanya ngga pernah ngeluarin benda itu dari mobil, jadilah barang – barang kaya ransel - ransel, sekresek snack serta minuman, ditaruh di jok belakang mobil yang juga diisi oleh saya dan teteh saya, Vitri. Vini duduk di depan mendampingi suaminya, Jim, yang nyetir sambil ngomel – ngomel mulu. Maklumlah, dia bule yang terbiasa dengan hidup cepat dan efektiv, jadi dia suka stress menghadapi lalu lintas di indonesia. Apalagi kalau ke luar kota. Ada mobil yang lelet pedahal di jalan ngga ada halangan sama sekali, belum lagi di jalan yang banyak mobil masih suka ada becak ataupun delman yang bikin kagok jalan mobil. Sebel juga sih dia ngga berhenti – berhenti ngomel dari Bandung sampai Pangandaran. For God’s sake, he has been lived in Indonesia for 14 years! Dan katanya dia betah di sini, tapi dia masih suka marah – marah. Maksud saya, ya udah sih…terima aja, toh dia ngomel – ngomel juga ngga akan merubah keadaan. Kalau kata sunda kasarnya sih, ongkoh betah dieu tapi di hina wae, di hina tapi di lebok! Sebel lah saya sama dia waktu itu (kalau pas dia nyetir khususnya, tapi apa boleh buat? Saya ngga ambil pusing toh saya ngga bisa nyetir jadi tetap mengandalkan dia..hehehehe). Untung kalau lagi ngga nyetir dia sangat menyenangkan orangnya. Pffffuuuuiiihhh…

Singkat cerita kita sampai di Batukaras dan check in di hotel JavaCove yang udah kita booking dua minggu sebelumnya. Gara – gara high season, kamar standar yang biasa harganya 70-90 ribu/malam jadi 209 ribu/malam. Ngga apa – apalah…toh di mana – mana hotelnya fully booked. Batukaras lebih enak dari Pangandaran, pantainya lebih sepi, ombaknya besar tapi bersahabat, terus mataharinya ngga begitu terik seperti di Pangandaran. Batukaras mirip banget kaya small town. Tetapi emang sih, ngga sesepi dulu waktu saya pertama kali ke sana di tahun 1998 apa 1999 ya?? Pokoknya waktu saya masih SD lah…(Nya heueuh! Da jaman teh barubah atuh neng Ica…!). Di Batukaras sekarang ada banyak penginapan yang murah – murah, warung makannya yang terdekat ke pantai ada 3, berjejer, semua menu utamanya seafood (apalagi coba kalau di pantai?), tapi yang paling banyak konsumennya adalah RM. Mang Ayi.

Hari pertama saya di Batukaras, saya langsung main – main di laut menikmati ombak sebagai relaksasi setelah menempuh perjalanan yang bikin tepos pantat. Bikin istana dari pasir sama bocah Scott, terus cetakan istana pasirnya beberapa hanyut ke laut tersapu ombak waktu di kubur di dalam pasir pantai dan kita lagi asyik berenang. Besoknya bokapnya Scott, Brett, negur saya. Walaupun gitu, gara – gara saya sudah menemani Scott main, Scott ngasih saya hiasan Wayang sebagai Christmast’s gift. Pedahal saya ngga natalan, hehehehe… Malamnya abis makan udang saus tiram, cumi saus padang (anjrit, pedes pisan!), sama tumis kangkung di RM. Mang Ayi, rasa capek tak bisa terelakkkan. Jadinya kita tidur, menyimpan energi karena esok hari kita mau hiking ke Citumang dan Batununggal.

26 Desember 2008
1st destinantion : Citumang
Hari ini saya exciting banget buat pergi ke Citumang, saya belum pernah ke sana sih… dan menurut cerita Jim yang udah beberapa kali ke Citumang, kayanya tempat itu keren banget. Ternyata memang KEREN! Citumang itu adalah sungai, airnya mengalir dari dalam sebuah gua yang letaknya di dalam hutan, musim hujan seperti sekarang arusnya lumayan deras sehingga membentuk seperti lagoon air terjun kecil. Warna airnya turqois jernih dan dingin banget! Yaiyalah, secara udara di luar kan panas banget jadi pas masuk air rasanya cesssss…dingin.

Pagi – pagi jam 7an kita ciao ke Citumang dari Batukaras. Letak Citumang ada di antara Batukaras dan Pangandaran, setelah batuhiu. Dari Batukaras memerlukan sekitar 15 – 30 menit pakai mobil sampai ke dalam ( ke tempat parkir mobil ), lalu jalan kaki lagi menembus hutan, agak sedikit hiking, sekitar 10 menit. Setelah kaki berbelok – belok (penuh lumpur) ria, sesampainya di tepi sungai semuanya jadi terbayar lunas. Ada hal yang lucu. Seperti biasa, kalau masuk cagar alam atau wahana wisata kita harus bayar tiket. Lucunya, petugas pos tiket tiba – tiba ada hanya pas musim libur ( high season ) seperti sekarang dan setiap pengunjung wajib membayar tiket sebesar Rp. 3.500. Pedahal kalau lagi low season, pos tiket itu suka kosong ngga ada penjaganya. Jadi kita bisa masuk seenak hati tanpa perlu bayar karcis. Hhhhh...Indonesia....
Okelah, tak apa membayar untuk tempat yang bagus. Oh iya, sebelum masuk ke dalam hutannya jangan lupa pake anti-nyamuk oles biar ngga digigit nyamuk atau serangga lainnya, hindari pakai parfum karena akan mengundang para serangga, dan jangan lupa pakai sendal atau sepatu yang sesuai dengan medannya. Jangan sampai cuma pake sendal teplek apalagi high heels. Hahahahaha.... menuju Citumang tidak perlu khawatir dengan kata ”Hutan”. Hutannya bukan hutan yang gelap kok, jalurnya juga gampang ngga ada belokkan bercabang, tinggal ikuti jalur setapaknya aja. Terus sampai deh di atas, di mana terletak gua dan air sungai yang keluar dari dalamnya.

2nd destination : Batununggal
Kita balik lagi Batukaras buat makan siang sambil istirahat sebelum sorenya ke Batununggal. Pas perjalanan pulang ke Batukaras, saya dan Jim memutuskan untuk berjalan kaki lewat jembatan bambu sebagai shortcut ke Batukaras, teteh saya nyetir dan jemput kita berdua di belokan pantai Batukaras. Saya dan Jim menelususri jalan yang di kanan – kirinya hutan yang pohon – pohonnya rimbun. Ahhhh...jadi panas mataharinya ngga begitu terasa. Kita menemui beberapa tempat penimbunan kayu hasil dari pohon – pohon yang di tebang. Sedih sih liatnya...tapi ada manusia yang dapet makan dari hasil itu. Terus kita naik jembatan bambu, lumayan lebar karena maksimal dua sepeda motor bisa lewat situ, di bawahnya adalah sungai Cijulang yang membentang. Airnya yang turqois berkilau – kilau dari pantulan sinar matahari dan sungai itu bisa membawa kita sampai Green Canyon. Menurut saya, sungai Cijulang itu rada mirip – mirip Amazon dari liak – liuk sungainya. Dari permukaan sih airnya tenang, tapi sebenarnya arus nya deras dan katanya banyak buayanya.
Well, selesai makan siang di tepi pantai Batukaras, kita akhirnya berjalan kaki ke Batununggal. Batununggal letaknya masih di Batukaras hanya saja ada di balik sebuah bukit. Sebenarnya bisa pakai perahu ke sana, tapi ombaknya besar jadi daripada di tengah perjalanan perahu kebalik jadi saya sih lebih memilih naik bukit. So, kita pun jalan menaiki lalu menuruni bukit yang berbatu dan kanan kirinya tumbuh pohon – pohon liar. Untung jurangnya tidak begitu curam, jadi saya ngga fobia – fobia amat. Setelah sampai turun bukit dan sampai di Batununggal, saya Cuma bisa bilang ”WOW!” Waktu yang dibutuhkan untuk sampai Batununggal dengan hiking cuma 15 menit.
Pulaunya kecil tak berpenghuni, berpenghuni sih....ada kepiting, burung, dan mungkin juga ular di sela – sela batu – batu karang. Keren banget lah... ngga ada orang lain selain kita berempat ditambah Brett dan Scott. Bahkan kalau mau telanjang pun ngga perlu khawatir karena ngga bakal ada orang lain yang ngintip. Hehehehehe... makanya bule – bule seneng berjemur di sini soalnya sepi dan ngga crowded sama wisatawan lokal yang kadang suka pada rese ngeliatin mereka berjemur. Asyik tempatnya, serius. Tapi kalau mau ke sana jangan sendirian juga, kalau sendirian agak serem juga. Ombak laut selatan gitu loh....

27 Desember 2008
Batu Hiu dan Pangandaran

Huhhhh...so great. Pagi – pagi kita main di pantai Batukaras terakhir kali sebelum check out. Kita check out jam 10 pagi dan pindah ke Pangandaran. Sebelum ke Pangandaran kita mampir dulu ke Batuhiu sekalian makan siang. Di Batuhiu ngga ada orang yang berani main di Pantainya, soalnya ombaknya memang tidak bersahabat. Bisa – bisa kita terseret ke tengah laut. Zaman dulu di Batuhiu ini banyak sekali karang – karang besar menjulang, tapi ombak besar mengikisnya habis. Kalau di Batuhiu dan Pangandaran, bersiap – siaplah kulit anda terbakar. Karena di dua Pantai ini Matahari bersinar sangat terik. Kita ngga lama di Batuhiu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Pangandaran kita makan durian dulu (yang kita beli di perjalanan pulang dari Citumang) di lapangan parkir yang menghadap ke laut.
Sampai di Pangandaran jam satu siang. Beruntung kita dapat kamar untuk menginap di Adam’s Homestay. Penginapan ini sumpah, nyaman banget! Pengelolanya orang Jerman dan penginapannya didesign khusus untuk orang – orang yang menyukai ketenangan. Karena emang sepiiiii banget kaya yang ngga berpenghuni. Pedahal banyak yang nginep di situ. Kalau High season kamar standar yang cuma pakai kipas angin, 2 bed single, dan kamar mandi di luar, harganya 140 ribu. Tapi kalau low season sekitar 90 – 100 ribuan.
Saking panas dan gerahnya, kita berenang tengah hari di Kolam renang di Penginapan. Segerrrrr.... sorenya kita ke Pantai, kakak - kakak saya pada belanja tapi tidak halnya dengan saya. I'm not into shopping thing, terlebih kalau udaranya panas gitu, terus kita masih harus perang harga dengan penjual. Wew! nein, danke. Beberapa orang senang "buying things" dan beberapa orang lainnya lebih senang "buying experience". Dan saya termasuk orang yang memilih opsi ke dua. Selanjutnya beres belanja dengan menyewa perahu dan membayar 7500 per orang, kita diantar ke pasir putih. Kalau antar jemput kita bayar Rp. 10.000. Tapi gara – gara Jim mau pulang jalan kaki lewat hutan cagar alam, jadi kita cuma numpang di seberangin doang. Sebenernya pantai pasir putih, bukan benar – benar pasir putih, tepatnya ”pasir”nya itu adalah karang – karang yang sudah mati dan terbawa ombak ke tepi pantai. Kalau dari jauh kelihatannya seperi pasir putih. Di sini perairannya dangkal dan airnya jernih, jadi banyak orang yang snorkeling. Pulangnya seperti yang saya bilang tadi, kita jalan lewat cagar alam dan saya melihat beberapa kijang liar. Lucu banget mereka...kita keluar hutan pas banget mau maghrib, sayang ngga ada sunset soalnya langit mendung dan malamnya hujan.

28 Desember 2008
Back to the City

Well, sangat menyebalkan di kala akhir liburan telah tiba. Udah gitu, biar ngga kejebak macet panjang, kita check out pagi – pagi banget, jam 6.30. Bahkan si pengelolanya bilang, ”You are so early!” Hahhhhh...yes, damn we are…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar