Label

5.2.10

Apa yang Ada dalam Benaknya?

Saya menunggu bis. Duduk berdua di bawah pohon rindang, saya dan comro, air menetes rintik turun dari langit ke bumi Jatinangor. Kami menatapi orang gila yang tengah duduk di pinggir jalan dan asyik sendiri merogoh - rogoh kantung keresek yang dibawanya sambil sesekali ia menggerutu entah pada siapa. Orang gila itu terdiam menatap jalanan dengan tatapan yang terlihat kosong di mata kami. Lalu merogoh kantung kereseknya lagi sambil bermonolog. Baju compang - camping, dekil, topi yang sudah mulai samar warnanya itu menutupi rambut gimbalnya, ia mengenakan sendal yang bentuk dan warna tak sama. Tentu pemandangan itu tak lazim dari kacamata kita yang beranggapan bahwa diri kita normal dan memiliki akal sehat. Tapi orang gila itu nampak nyaman dengan apa yang ia kenakan, nampak nyaman dan asyik dengan teman ngobrolnya yang kasat mata itu.


"Menurutmu orang gila itu benar - benar hilang akal?" tanya Comro. "Lihat, tatapannya kosong, pikirannya menerawang. Apa yang sedang dia pikirkan? apa yang sedang dia lihat?" lanjutnya lagi.
"Tidak." jawabku. "Sepertinya dia punya cara pandang sendiri. Kita melihat dia dan bilang bahwa dia orang gila, tapi mungkin saat dia melihat kita, menurut dia kitalah yang gila." tambahku sekedarnya.
"Bukan begitu. Maksudku, mungkin dia beranggapan bahwa bajunya bagus dan baju kitalah yang jelek. Menurut kita, inilah yang disebut kacamata tapi menurut dia mungkin ini namanya bukan kacamata. Bulat menurut kita mungkin menurut dia bukan bulat, mungkin lonjong atau kotak." begitu pendapatnya. Aku mendengarkan seksama perkataan Comro yang meluncur dari bibir manyun berkarangnya itu (heuheu :p). "Mungkin saat dia bicara, sebetulnya dia tidak bicara sendiri. Mungkin dia bicara pada lawan bicara khayalannya atau dia bicara pada sesuatu. Entah itu kantung plastik, batu, dan benda lainnya. Aku jadi ingin tahu apa yang sebenarnya ada dalam benaknya."
"Mungkin memori - memori dia di masa lalu yang membuatnya jadi gila." kataku.
"Orang gila punya ikatan yang kuat. Contoh, kalau dia sekarang ada di Jatinangor terus dia jalan nyampe rumah kamu, sama kamu dikasih makan. Seperti kucing, besoknya dia bakal balik lagi ke tempat kamu untuk minta makan. Sejauh apapun dia pergi, kalau mau makan dia balik ke tempat kamu."
Begitulah. Sore berangin itu dipenuhi analisis tentang orang gila. Mencoba mengulik seperti apa hidup itu jika dilihat dari kacamata orang gila.
orang gila di pinggir jalan, terduduk terdiam melihat pejalan, "terimakasih
Tuhan, telah membuat saya gila", mungkin ucapnya dalam hati..
(via status FaceBook Moeljadie Moertadho)

Betul bukan kita-kah yang gila??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar