Label

18.11.10

Delapan Belas, Dua Puluh Dua Bulan Kemudian

delapan belas, dua puluh dua bulan yang lalu terasa sesak dalam ruang temu yang tersekat oleh waktu. Jingga yang temaram masih terasa hangat membasuh sukma dan rindu membanjiri rongga hati. Setiap hari menghitung jumlah waktu yang terlewati. Hari ini 18 jam, minggu berikutnya bisa mencapai 24 jam, lama setelah hari 24 jam itu, terlewati 38 jam.... tak sering dapat melewati waktu sebanyak itu. Syukur mengalir deras dari bibir, senyum merekah.




Delapan belas, dua puluh dua bulan kemudian. Jingga yang temaram bersembunyi dibalik mendung awan. Atau berkelana menghiasi sisi dunia yang lain. Begitu dingin. Delapan belas, dua puluh dua bulan kemudian, sekat waktu telah runtuh. Maknanya hilang. Lebih dari 24 jam dapat terlewati bersama. Dalam senyum, renung, atau pun ego. Ada tali mengikat begitu kuat hingga sulit untuk berlari, mencoba mencari hangatnya senja dalam balutan jingga yang remang. Tapi hangat itu hilang.

delapan belas, dua puluh dua bulan berikutnya, masih akan terasakah makna waktu yang terlewati? atau tak ada sama sekali.....


 "...kepada yang tercinta // inginnya ku mengeluh // semua resah di diri // mencari jawab pasti..." (Anda-Tentang Seseorang)

5 komentar:

  1. Langit menyapa senjana jingga,,,

    kuharapa senja tak pernah MATI,simpanlah jingganya sahabat,,,,

    dan tak usah pedulikan tentang WAKTU,,,

    nice, :)
    salam, langitSenja

    BalasHapus