Label

25.3.11

Menyukseskan Korupsi di Perpus Sastra

Ada syarat-syarat yang diberlakukan untuk mengikuti ujian sidang skripsi di fakultas saya, diantaranya surat keterangan bebas pinjaman dari perpustakaan fakultas. Untuk mendapatkan surat keterangan itu, maka setiap mahasiswa diharuskan menyumbang dua buku dengan tema, minimal halaman, dan minimal tahun terbit yang sudah ditentukan. Sayangnya setelah ada persyaratan buku yang harus disumbangkan itu, tetap saja dipersulit.


Contohnya seorang teman saya. Sebuat saja dia Melan. Melan ini sidang bulan Pebruari kemarin, sebelumnya dia juga mengurus-urus tetek bengek persyaratan yang wajib dipenuhi. Saat dia sudah beli dua buku untuk disumbangkan, petugas perpus menolaknya. Katanya sih, karena perpus sedang tidak membutuhkan buku itu. Terpaksa teman saya beli buku lagi dua buah, kali ini ditolak dengan alasan halamannya kurang. Teman saya yang lain, sebut saja dia Unyil, tidak mau repot dengan harus bolak-balik beli buku tapi UUD (Ujung-ujungnya duit) dia langsung tanya dia harus bayar berapa kalau tidak menyumbang buku. Si Unyil ini akhirnya harus mengeluarkan uang dari koceknya sebesar Rp. 100.000,- demi perpus mengeluarkan Surat Keterangan Bebas Pinjam (SKBP). Teman saya si Melan tidak mau membayar (bagus, Melan!) dan dia akhirnya mematuhi si Petugas yang memberi syarat kalau bukunya mau diterima dia harus membeli satu buku lagi. Jadi Melan memberikan satu "bonus" buku untuk perpus ini dan keluarlah si SKBP itu.

Kemarin tanggal 23 Maret, saya dan empat orang teman ke perpus untuk tanya-tanya (alias nego harga) berapa besar yang harus dibayarkan kalau tidak menyumbang buku. Kami juga butuh SKBP itu untuk menempuh ujian sidang April nanti. Saya dan teman-teman tidak mau jadi korban selanjutnya yang dipersulit sampai harus beli buku berkali-kali, kami juga bukan orang yang pandai beradu idealisme dengan para petugas yang korup itu. Tiga orang teman saya menghampiri si bapak berkumis, petugas yang biasa berjaga di balik meja "Peminjaman dan Pengembalian Buku", tiga orang teman saya itu rupanya langsung bayar. Saya dan teman saya yang ngga bawa duit, menemui ibu berkerudung di ruang administrasi perpus. Setelah bernego, kami dicharge sebesar Rp.50.000,- dan kami bilang mau bayar nanti senin (mudah-mudahan ngga naik lagi ntar senin. haha). Tiga teman saya yang berurusan dengan si Pak Kumis harus bayar sebesar Rp. 60.000,-. Pak Kumis menyodorkan beberapa buku pada tiga orang teman saya untuk mereka pilih, buku-buku itu nantinya akan dituliskan di SKBP sebagai buku yang telah disumbangkan.

"Kayanya uangnya bukan buat perpus, tapi masuk kantong si Bapaknya sendiri," komentar seorang teman saya.
"Pasti lah..." timpal yang lain.
"Emang tuh perpus," ujar seorang lagi sambil menghela nafas jengkel. "harus digimanain ya itu (orang-orang) perpus?!" lanjutnya bertanya.
Saya yang sedari tadi diam, tergelitik untuk angkat bicara, "Loh bukannya korup itu memang sudah mengakar ya?"
"Wah, udah deh kalau kamu ngomong, susah..." dia memotong.
"Ya, abis kamu juga ngga berkaca pada diri sendiri. Kita juga suka korup, apapun bentuknya (maksud saya waktu---kalau telat dateng kuliah tapi pengen cepet pulang juga termasuk korupsi)." kata saya. Dia langsung diam, pundung. Oke, sepertinya jawaban saya tidak mengenakkan, jadi saya tidak lanjut berbicara.

Kita tetap membayar patokan harga yang sudah dibuat sembarangan oleh para petugas tak bertanggung jawab itu untuk melancarkan urusan kita. Kecuali jika kita sudah mempunyai sikap sejak awal, tak apa lah kita kesal. Tetapi ini kan tidak, kita yang datang ke mereka untuk bersedia membayar tanpa perlu menyumbang buku, tak perlu banyak berkeluh kesah karena kita menerjunkan diri untuk menjadi bagian dari permainan kotor itu. Kalau kita memang bisa menentang, ya sudah, jangan bayar dan sumbang buku saja sebanyak-banyaknya. Itu bagus untuk memotong kesempatan mereka memalak seenaknya. Tapi kenyataannya buku-buku sumbangan itu seperti dicari-cari kesalahannya supaya kita terus beli buku akhirnya jera dan tetap mengeluarkan uang cash sebagai pelicin urusan.

Tidak heran kalau korupsi di negeri kita sulit untuk dipunahkan. Orang-orang muda seperti kami dan masih akan berlanjut ke generasi setelah kami sudah dibiasakan berada di dalam lingkaran korupsi. Kita terbiasa, lalu mengikuti arus yang ada demi mendapat jalan pintas. Tidak banyak orang-orang kuat, orang-orang lemah akan terjebak di lingkaran itu dan hanya sanggup bergerak searah angin berhembus. Dipalak dan tanpa bisa menghindar karena kebutuhan mendesak yang krusial.

Saya jadi ingat dua semester yang lalu saat hendak latihan drama. Kami latihan sore hari dan aula di gedung B sudah dikunci. Tetapi kami harus latihan di sana (istilah kerennya gladi resik), karena toh nanti pementasan akan dilangsungkan aula itu. Kami harus menyogok penjaga gedung agar dibolehkan latihan di aula. Uang sogokan itu disebut-sebut oleh petugas sebagai "uang rokok dan kopi". Dosen mata kuliah drama saya berasal dari Jerman dan bilang, "Oh, oke. Ya, ya, saya sudah mengerti. Di sini asalkan ada uang, semua pasti beres. Koruption an der Uni (korupsi di Universitas)!". Uang seperti telah mengalahkan Tuhan. Dia begitu di atas segalanya.     

3 komentar:

  1. bujubuneng. korupsi memang dimane2 ya sekarang ca.
    i know how to put a revenge. :) *senyum iblis*
    bikin surat kaleng atau artikel tanpa nama, sebarin seantero kampus biar semua orang baca.
    and his life will be end!
    sounds interesting, don't it?

    BalasHapus
  2. halo :D followback please :) http://garagaramarda.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. @Hans: hahahaha...ide-mu lebih bagus daripada ide temenku yang bilang nyumbang (BOM) Buku. hahaha

    @msekarsahaja: already followed. thank you..

    BalasHapus