Label

2.11.14

RINJANI, A JOY AND A LOSS


Pada satu kesempatan saya pernah mengatakan satu keinginan pada si Comro untuk memperingati bersama pengulangan tanggal kelahiran alias ulang tahun di Rinjani. Kebetulan tanggal kelahiran kami hanya berbeda 4 hari, dia 6 dan saya 10. Tapi Gunung Rinjani jauh ya, berhubung saya di Bandung, dan saat itu kami masih mahasiswa tingkat akhir. Pertama ngga punya uang, kedua ada yang harus diprioritaskan. Yes, skripsi!
Dua tahun setelah kelulusan, setelah masing-masing berjuang mengisi dompet sendiri, Comro menghubungi saya dengan coolnya bilang, "kamu nabung ya. Kita ke Rinjani.".
Tentu saja saya menjawabnya dengan, "Oke. kapan?"
"Mei." begitu jawabnya. Tapi ternyata saya tidak bisa menabung dengan baik. Situasi finansial sedang carut marut dan rupiah-rupiah itu tak bisa diam di satu tempat. Pendek kata uang saya tidak cukup untuk pergi. Tapi Comro sudah bertekad kami harus pergi. "Kamu ngga usah pikirin. Siap-siap aja.". Setengah senang, seperempat tak enak hati dan seperempat lagi malu luar biasa. Comro mengirim email yang berisi tiket pesawat dari Bandung ke Denpasar. Di sana tertulis tanggal 4 kami berangkat, tapi Comro berangkatnya dari Balikpapan dan meeting point kami tentu saja di Ngurah Rai. Ini adalah kali kedua saya mendaki gunung, setelah Semeru di tahun 2010. Saya maupun Comro baru pertama kali ke Rinjani, saya sendiri dengan bodohnya tidak membekali diri dengan persiapan fisik dan informasi detail mengenai perjalan kali ini.

--- SABTU, 4 MEI ---- 

Siang itu saya sudah siap berangkat. Sama seperti dulu ke Semeru, saya dipaksa berjanji oleh wanita yang melahirkan saya untuk tidak naik ke puncak. Baiklah, asal bisa ke Rinjani saya berjanji untuk tidak memaksa ke Puncak. Tas carrier seberat 11 kilogram sudah naik di motor dan tinggal memutar gas. Namun langkah saya terhenti saat telepon genggam berdering. Indikatornya menunjukan nama Comro. "Hallo," jawab saya. "Ini udah mau berangkat ke Husein." kata saya. Di ujung telepon Comro cekikikan dengan kikuknya. "Kenapa?" tanya saya curiga.
"Ehm... gini. Saya masih banyak kerjaan yang harus diberesin. Takutnya ngga kekejar pesawat sore ini." ujar Comro. Dia seharusnya berangkat dari Balikpapan dengan pesawat pukul 15.30, sedangkan saya dari Bandung pukul 12.45. "gimana kalau ditunda dan berangkatnya besok aja? Nanti saya carikan kamu tiket yang baru." begitu kata Comro. 
Dengan kesal saya jawab, "Ngga mau. Saya udah mau berangkat sekarang. Motor udah tinggal di gas. Kamu kalau ngga bisa beres hari ini, ya sudah. Kamu berangkat besok aja, nanti saya cari penginapan di deket Bandara atau nginap di Bandara." 

"yah jangan begitu dong..."

"saya mau berangkat hari ini. Lagipula kalau ditunda besok, ngeluarin uangnya dua kali. lebar (sayang duit)." begitu egoisnya saya. Comro pun mengalah dan bilang akan berusaha untuk beres hari ini. Ia berjanji untuk segera memberi kabar kepastian soal keberangkatannya. Terbanglah saya akhirnya ke Denpasar. Saya menunggu dan menunggu di Ngurah Rai yang ramai itu. Makan, dengerin iPod, bolak balik buka handphone, memerhatikan lalu lalang penumpang, begitulah saya mencoba membunuh waktu. Maghrib akhirnya pesawat dari Balikpapan landing. Dari pintu keluar berjalan sesosok lelaki kurus, berkacamata, belum cukuran kumis, mengenakan baju hitam lengan panjang, celana pendek yang memamerkan betis super skinny (jauh bila dibandingkan betis saya yang lebih mirip tales bogor), sendal gunung, dan topi hitam. Pundaknya yang hanya terdiri dari tulang dan kulit itu masih kuat menggendong tas seberat 17 kg. Dia senyam-seyum ke arah saya. Itu adalah pertemuan pertama kami setelah satu tahun lamanya terpisah jarak.

"Saya belum mandi," ujarnya. No wonder bau asem menyengat tercium dari badannya. Tapi yah, sejujurnya saya kangen sama bau itu. Bau yang begitu akrab di indera penciuman saya selama dua tahun kami menimba ilmu di kampus dan jurusan yang sama dulu. 

Seharusnya kami bisa naik Damri hingga terminal Ubung, dari sana dilanjutkan dengan bus hingga Padang Bai atau bus langsung ke Mataram, Lombok. Tapi berhubung sudah jam setengah tujuh malam lebih, Bus Damri pun tak lagi beroperasi. Pilihan lainnya adalah taksi. Sang Supir sudah barang pasti bertanya pada kami mau ke mana tujuannya ke Ubung dan si Comro menjawab bahwa kami mau ke Rinjani di Lombok.

"Rinjani itu apa? Pantai?" Saya terhentak mendengar pertanyaan Pak Supir. Emang benar ngga tahu atau hanya sekedar basa basi ngobrol menyambut wisatawan? Apapun itu Comro menjawabnya dengan sabar, "bukan, Bli. Itu nama gunung."

"Oh, mas sama mba nya ini mau mendaki? Wuah wuah... hebat ya. Di Bali juga ada, mas. Gunung Agung. Ke sana juga suka banyak turisnya." begitu timpal Bapak beranak empat ini. Selama 2 – 3 jam perjalanan menuju Ubung, obrolan hangat terus terjalin diantara kami bertiga. Malam itu jalanan cukup macet karena ada perbaikan infrastruktur dimana-mana. Sang Supir kemudian menawarkan diri untuk mengantar kami berdua langsung ke Padang Bai dengan ongkos Rp. 300.000. Dari pelabuhan Padang Bai, kapal feri menuju lombok berangkat setiap satu jam sekali dan beroperasi 24 jam. Tapi saat itu pemikiran kami adalah bus akan lebih murah biayanya, sehingga saya dan Comro memutuskan untuk tetap ke Terminal Ubung. 

Sesampainya di Terminal Ubung sekitar jam 9 malam, tidak ada lagi petugas loket resmi dan kami berdua digiring ke "markas" bus oleh para calo. Tujuan kami adalah langsung ke Mataram dan ternyata bus ke Mataram ini berasal dari Jawa hingga baru nyampe Ubung sekitar pukul 02.00 dini hari. Ada pula mini bus alias elf menuju ke Padang Bai, tapi ngetemnya lumayan juga dan selalu tak berpenumpang. Akhirnya Comro membeli tiket bus ke Mataram dan harganya Rp. 150.000 per orang. Hahaha... konyol sungguh konyol. Keluar juga itu uang Rp. 300.000. Di ruang kecil itu sudah banyak penumpang yang juga tengah menunggu bus, tujuannya beragam. Ada yang ke Mataram, ada pula yang ke Bima, Sumba. 

Saya dan Comro terlibat obrolan bersama seorang pria muda yang hendak pulang ke Bima. Kata si calo, busnya akan datang pukul 10 malam. Tapi nyatanya si bus yang ditunggu tidak nongol dan kata calo nya lagi bus ke Bima baru datang pukul 03.00. Dalam hati aku tertawa, bukan menertawakan si Mas yang hendak pulang kampung. Aku tertawa karena punya firasat bernasib sama dan akan menghabiskan sepanjang malam di Terminal Ubung menunggu bus yang tak pasti datangnya. Betul lah begitu karena bus saya juga tidak datang sesuai waktu yang dijanjikan calo. Entah kapan, ya sudahlah. Sudah terjadi, nikmati saja pengalaman yang indah ini. 

Secara bergantian, kami tidur di ruang penuh asap rokok itu. Baunya minta ampun. Perokok adalah orang paling egois dan jahat menurut saya. Belum lagi dalam satu malam itu dua perkelahian seru terjadi antara para calo yang mabuk. Padahal tak jauh dari sana terdapat pos polisi. Tapi pesta alkohol dan perkelahian seperti sah sah saja. Saya yang tidak bisa istirahat dan jengah melihat kekonyolan manusia itu mengajak Comro untuk ngadem di Alfamart seberang terminal. Sekalian saya mau numpang BAB alias Buang Air Besar (sebenarnya inilah tujuan utama saya ke Alfamart). Sambil pura-pura beli minum dan sabun muka, saya menanyakan letak toilet. Setelah sukses mengosongkan isi perut, kami cukup lama ngadem di Alfamart. Ngobrol ngaler ngidul dan bercengkrama. Hari semakin pagi, pukul 4.00 subuh Bus menuju Bima datang dan kami berpisah dengan si Mas manis itu. Setelah matahari mulai menerangi, saya ngobrol dengan salah satu calo tentang perkelahian semalam. Mereka minta maaf karena membuat tidak nyaman, tapi saya cuma senyam-senyum. Saya berfoto dan mengucap sayonara sama si abang calo ketika bus yang ditunggu pun akhirnya datang pukul 07.30 pagi.

--- MINGGU, 5 MEI ---

Sepanjang jalan menuju Padang Bai, kami (saya sih sebenernya) habiskan dengan mata terpejam. Baru tersadar 100% ketika bus tengah parkir dalam garasi feri. Wow, gelap. Ini kali pertama saya naik feri. Agak parno sebenarnya. hahaha.... Usai parkir, penumpang dipersilahkan turun dan menikmati perjalanan di atas kapal menuju Lombok. Begitu turun saya berucap lagi, wow sempit ya. Harus memiringkan badan diantara mobil, bus, dan truk. Dengan badan tambun rasanya saya seperti berjuang keluar lubang jarum. Sampai di atas kapal, ya hanya ada panas. Udara khas kawasan pesisir. Matahari pun cukup terik tapi saya semangat melihat pemandangan biru. Naik feri dari Padang Bai menuju Pelabuhan Lembar Lombok memakan waktu 4-6 jam. 
Laut biru dengan tanah hijau dikejauhan menjadi pemandangan sejuk di perjalanan. Puncak Gunung Agung mencuat dari balik awan tipis, seperti mengawasi lalu-lalang kapal di wilayah kekuasaannya. Berhubung pertama kali naik feri, kerjaan saya naik turun terus, foto di segala sudut. Ada ruangan AC sebetulnya, kita bisa ngadem di situ, tapi berhubung AC-nya dingin banget dan saya alergi sama AC sedingin itu, jadi lebih memilih berjemur di luar. Pulau Lombok yang tak kunjung mendekat dan perjalanan panjang dari Bandung sampai Ubung kembali membuat saya tertidur diemperan dek. Tentunya cari tempat yang sedikit teduh biar tak terlalu tersiksa. Begitu memasuki Pelabuhan Lembar, penumpang diperintahkan untuk kembali ke bus nya masing-masing. Namun keluar dari kapal feri bukanlah perkara mudah. Ngantrinya... wuidih. Kendaraan harus menunggu lama dan bus saya adalah bus yang pertama masuk. Artinya akan terakhir keluar. Parkirnya pun tak beraturan bentuk. Sadaaaap.... sepuluh menit... tiga puluh menit... enam puluh menit... menunggu dalam bus di garasi kapal feri. Saya bahkan sempat tidur, dan saat terbangun masih juga ada di dalam feri. Entah pukul berapa itu, tapi pasti sudah sangat siang mungkin menjelang sore. Setelah berhasil keluar, bus melewati jalan berkelok-kelok menuju kota. Pemandangan sawah dan bukit khas desa memanjakan mata. Saya dan Comro turun di Terminal Mandalika, kami disambut ojeg dan sopir angkot. Melihat tas kami mereka tahu tujuan kami adalah Rinjani. Serta merta menawarkan untuk langsung ke Sembalun atau Senaru. Tapi tidak, tujuan kami adalah Mataram karena hendak bertemu teman lama terlebih dahulu. Agus namanya. Dia adalah orang Lombok asli dan kuliah satu jurusan dengan saya dan Comro di Jatinangor. Istrinya yang orang Bandung dia bawa menetap di Lombok. Reunion time. Kami melanjutkan naik angkot menuju pusat Mataram.
“Mas nya dari mana ini?” Tanya AA Sopir.
“Kalimantan,” jawab Comro.
“Wuah jauh ya. Nda langsung ke Sembalun aja?” tanyanya lagi.
“Nda. Kita ke rumah teman dulu di Mataram.” jawab Comro.
“30.000 ya, Mas. Langsung diantar sampe rumahnya.”
“Wuah, ngga usah, Bang.” kata saya. “Kita ngga buru-buru. Silahkan sambil angkut penumpang lain aja.”. Saya dan Comro tahu ongkos angkot sampai Mataram itu Rp. 5.000. Tapi sopirnya keukeuh mau jadi taksi aja. Jadi ekslusif kita berdua. “ngga, Bang. Itu ada yang mau naik di depan. Kasihan.”
Akhirnya si sopir menyerah dan mengangkut penumpang lain itu.   

Sambil menunggu Agus, saya dan Comro mengisi perut di warteg samping mall Mataram. Tak ragu saya memilih plecing kangkung, penasaran karena belum pernah coba. Sadis. Pedasnya sadis. Membuat saya memilih untuk tidak menghabiskannya.
“Saya keliling dulu cari toko bangunan. Kamu tunggu di sini (baca: warteg).” ujar Comro.
“Lah ngapain?” Tanya saya.
“Cari spirtus, kan belum beli.” jawabnya. Spirtus memang penting sebagai bahan bakar memasak selama kemping. Padahal sekarang sudah ada kompor gas mini untuk kemping, tapi ya bagaimana lagi kita hanya punya kompor trangia yang harus pake spirtus. Sialnya setelah lama keliling tak ditemukan juga toko penjual spirtus. Alternatif lain adalah alkohol, tapi tak terlihat pula apotek terdekat.

Berhubung sampai di Mataram itu jam 4 sore, saya dan Comro memutuskan untuk bermalam di Mataram. Kami juga tidak mau merepotkan Agus dan sang Istri yang masih menumpang di rumah orang tua. Tapi teman lama itu menunjukkan wisma murah yang harganya Rp. 50.000 per malam. Saat malam tiba, Agus menjemput kami ke penginapan sembari membawa 1 liter spirtus dari warung sembako milik ibunya.  Horray!!

Kemudian dengan berbekal dua motor, Agus mengajak kami keliling kota Mataram yang tak seberapa besar. Sepi pula. Keramaian hanya terlihat ketika Saya, Comro, Agus, dan istrinya yang tengah hamil 2 bulan itu mampir makan malam di warung Ayam Taliwang paling enak se-Mataram. Enaknya juara. Berhubung ditraktir Agus, saya makan lahap. Dalihnya menyiapkan energi untuk besok mendaki. 
"Wuah, sayang ya... coba kalian ngga buru-buru kita anter ke Senggigi dulu." ujar Agus. Senggigi, pantai yang indah. Pertama kali saya mendengar keindahannya adalah dari buku karangan Mira W berjudul Segurat Bianglala di Pantai Senggigi. Bahkan Rinjani pun terlukiskan di buku itu. Buku yang romantis.  
"Pulangnya mungkin, Gus." timpal Comro.
"Bisa. Atau mampir ke Gili. Rugi udah di Lombok ngga sempat ke Gili." kata Agus.
"Wuah... bener. Ya udah, pulangnya ke Gili kita ya?" kata saya pada Comro.
"Iyah," jawabnya.

---- SENIN, 6 MEI ----

"Selamat ulang tahun!!!" Seru saya menyambut pagi. Comro hanya geleng-geleng malu. "Ayo kita ke Rinjani hari ini. Siap?"
"Siap," jawab Comro mantap.
"Ini buat kamu." Saya meletakkan sebuah kado tak berbungkus di telapak tangan pria kurus itu. "Tau kenapa saya kasih kompas?"
"Kenapa?
"Biar kamu selalu inget jalan pulang. Jangan mendem terus di Samarinda." 
Comro bergidig geli mendengar jawaban saya. "Paling bisa aja kamu." 

Oke, dari Mataram ini kami harus menuju tempat elf yang akan mengantarkan kami ke Pasar Aikmel. Pagi-pagi sekali kami berangkat. Sebelumnya sarapan nasi uduk dulu di pinggir jalan. Penjualnya ternyata orang Bandung, saya nyaman ngobrol bahasa Sunda dengan sang ibu penjual nasi uduk. Melihat bawaan carrier, mengundang tanya dari penikmat nasi uduk lainnya. Kami mengobrol seperti satu keluarga di pagi cerah itu. Mereka juga mengingatkan untuk selalu menjaga barang bawaan dengan baik, terutama tas kecil yang kami selempangkan di badan. 
"Kalau bisa tas kecilnya itu jangan dilepas. apalagi digeletakin di sembarang tempat," begitu wanti-wantinya. Bagian paling seru dan tak boleh terlewatkan dari traveling adalah beramah tamah dengan warga lokal. Berada jauh dari rumah dan mendapatkan kehangatan di tanah yang baru dipijak itu sesuatu banget. hahaha...  

Menuju tempat elf (mini bus) kami naik angkot. Asyiknya angkot di Lombok, si sopirnya mengantarkan penumpang hingga ke depan rumah. Baiknya Pak Sopir tidak pada penumpang warga setempat saja, kami pun diantar untuk naik elf yang tidak ngetem. Elf ini kemudian membawa kami hingga ke Pasar Aikmel, tempat dimana transportasi menuju Sembalun menunggu para penumpangnya. Kami sampai di Aikmel sekitar pukul 09.30 pagi, tetapi pick-up yang kami tumpangi baru berangkat pukul 11.00. Mobil baru berangkat setelah penuh dengan barang-barang kebutuhan pokok warga desa di Sembalun. Bersama kami, juga menumpang ibu-ibu dan beberapa remaja warga Sembalun. Perjalanan ditempuh selama 2 jam dengan medan yang menanjak. Panas terik matahari dan angin dingin pegunungan bersamaan menyayat kulit. Naik pick-up sayur ini sangat mengasyikan. Terkadang dibuat deg-degan karena beratnya jalan berkelok dan menanjak itu. Dari jalan raya, pick-up mulai memasuki kawasan leuweung alias hutan. Di kiri ada tebing rawan longsor, di kanannya jurang. Untungnya jalanannya tidak rusak, tapi kelokan tajam dan tanjakan curam adalah tantangan yang harus ditaklukan. Belum lagi jika ada mobil dari arah berlawanan karena jalannya tidaklah cukup lebar. Barang bawaan yang sudah disusun rapi pun perlahan mulai berjatuhan karena gravitasi. Sehingga kami, para penumpang, bahu-membahu menjaga barang untuk tetap pada susunannya. Panas matahari tak terasa lagi karena rindangnya pepohonan. Dari balik pohon itu terdengar nyaring nyanyian burung, bahkan sesekali terdengar jeritan primata yang saling bersahutan. Di tengah alam kita senantiasa disadarkan bahwa manusia hanyalah sebagian kecil dari apa yang disebut kehidupan. Bahwa tak hanya manusia yang menghirup udara itu. Hidup rukun berdampingan dengan makhluk lainnya bisa mengantarkan kita pada rasa damai yang menyejukkan jiwa.



Sesampainya di basecamp Taman Nasional Gunung Rinjani pintu Sembalun, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Kondisi saat itu sangat sepi, hanya ada tiga orang pendaki asal Jakarta yang tengah bersiap untuk memulai perjalanan. Tetapi menurut petugas, tadi pagi banyak pendaki yang sudah berangkat. Saya dan Comro terlebih dulu beribadah dzuhur dan makan siang sebelum meneruskan perjalanan. Tak lama sebelum berangkat datang lagi satu rombongan yang terdiri dari 5 sekawan. Kami sempat mengobrol sejenak sebelum pamit duluan. Perjalanan dari basecamp hingga ke pos I sangat jauh dengan melewati perkebunan warga dan beberapa jembatan. Petugas menawarkan ojeg pada kami untuk menghemat tenaga dan waktu. Kendaraan bermotor itu bisa mengantar hingga jembatan pertama sebelum benar-benar memasuki jalur setapak. Tapi dengan semangat pejalan kaki, kami menolak secara halus.

Di tengah perjalanan baik saya dan Comro menyesal telah menolak tawaran ojeg itu. Jarak basecamp menuju jembatan pertama jauhnya lebih dari 2 kilometer. Dengan belasan kilogram di pundak, perjalanan panjang dari barat Pulau Jawa, dan tanpa persiapan fisik, membuat saya kerap melakukan istirahat. Padahal ini masih jalan biasa, tidak begitu menanjak, jalanannya hanya rusak, berbatu, dan tak ada pohon rindang. Di tengah perjalanan kami bertemu ibu-ibu tani yang tengah berjalan pulang dari ladang, kemudian ada juga bapak-bapak mengangkut rumput dengan motor 2 taknya. Tarikan motor jadul itu kerap membuat debu tanah berseliweran. Jalan santai (baca: lambat) saya dan Comro akhirnya tersusul juga oleh rombongan 5 sekawan yang tadi bertemu di basecamp. Bang Bimo, Bang Gusdur, Mas Gilang, dan kawan-kawan mengambil alih posisi terdepan. Saya jadi semangat dan mengikuti derap langkah mereka yang lebih cepat.

Perlahan tapi pasti medan dari jalan lebar dengan pemandangan kanan kiri ladang warga, berubah menjadi jalur setapak dan padang savana. Inilah Sembalun, menawarkan pemandangan bukit dan rumput-rumput liar di sekitar. Mungkinkah di balik rumput itu ada ular yang merasa terganggu dengan derap kaki kami? Entahlah, matahari terus tenggelam hingga yang terlihat hanya lautan bintang di angkasa.

Pendakian melalui pintu Sembalun memang lebih landai dibandingkan Senaru. Jalur ini lebih banyak didominasi pendaki lokal (wisatwan domestik) karena tujuan utamanya adalah puncak Rinjani. Dari Sembalun memang lebih dekat, kalau Senaru justru lebih dekat ke Danau Segara Anak yang banyak jadi incaran turis mancanegara. Meski dibilang lebih landai, tapi jangan bayangkan Sembalun sebagai medan datar. Kita tetap mendaki, jalurnya menanjak hanya kemiringannya tidak parah (baca: belum). Malam semakin larut, semua mengeluarkan senter dan tetap menjaga jarak sedekat mungkin. Saya hanya berjalan lurus mengikuti mas-mas didepan, sedangkan Comro berjaga di belakang. Kanan kiri sepertinya jurang, terasa angin yang berhembus cukup kencang dan dingin. Tetapi berhubung pembakaran dalam tubuh ini gila-gilaan akibat jarak tempuh yang jauh, dinginnya udara tak sampai membuat menggigil.
“Kalau terlalu malam, kita nginep di Pos I aja. Kalau mereka mau lanjut terus, kita ngga usah ikutan.” bisik Comro.
“Oke.” jawab saya dengan nafas tersengal-sengal. Pukul 9 malam lewat, kami bertujuh sampai di Pos I. Terdapat sebuah saung tanpa atap di sana dan disebelahnya sebuah tong sampah. Langsung saja saya mengeluarkan sampah-sampah bungkus cokelat, roti, serta minuman instan yang sepanjang jalan tersimpan di saku celana. Pos ini berada di area datar yang cukup luas dan terbuka. Kenapa terbuka, karena angin yang bertiup sangat kencang. Saya mengutarakan rencana untuk menginap di Pos I, tapi menurut salah seorang dari 5 sekawan (sebut saja Mas Semarang karena asalnya dari Semarang) lebih baik menginap di Pos II. Dia sudah pernah ke Rinjani sebelumnya.
“Di sana anginnya ngga gede dan sangat dekat dengan sumber air. Udah dekat kok.”. Akhirnya Comro dan saya nurut ikut rombongan. Ketika badan mulai menggigil, artinya istirahat sudah cukup dan perjalanan harus dilanjutkan. Setelah istirahat cukup lama, langkah kaki menjadi semakin berat. Stamina jelas sudah sangat menurun sehingga lelah begitu terasa. Tapi Mas Semarang terus memberi semangat, “ayo, itu di depan Pos II. Mau lari aja biar cepet sampe?” kata-kata itu terus diulang. PHP alias pemberi harapan palsu. Dekatnya masih harus terus dipanjat.

Pos II mulai terlihat. Lampu-lampu dari tenda semakin dekat. Wuah ternyata ramai sekali di pos ini, bahkan kami kesulitan menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Pos II berupa jembatan, dibawahnya ngarai dan sungai. Di sana juga ada saung yang letaknya dibawah jembatan, dekat dengan mata air yang mengalir ke sungai berbatu. Area ini dikelilingi tebing batu sehingga menahan angin. Oleh sebab itu tidak begitu terasa dingin. Kami bertujuh adalah rombongan terakhir yang sampai di Pos II, kebagian tempat yang sebetulnya kurang rata untuk mendirikan tenda. Tapi tak apalah, masih untung bisa dapat tempat dibandingkan harus berjalan lagi. Setelah tenda berhasil didirikan dengan semangat gotong royong, acara selanjutnya adalah memasak. Comro mulai merapikan barang-barang di dalam tenda, sedangkan saya berada dibagian dapur. Ada satu insiden ketika sedang menyalakan api, angin berhembus cukup kencang dan mengakibatkan kompor berisi spirtus yang menyala terjatuh hingga membakar rumput. Awalnya saya panik takut api keburu merembet membakar tenda. Akhirnya api berhasil padam dengan cara saya injak pake sepatu, tanpa menarik perhatian satu orang pun. Thank God. Makan malam saat itu memang cuma mie rebus dan segelas cokelat panas, tapi ampuh membuat tidur nyenyak dan bangun segar bugar di pagi keesokan harinya.

--- bersambung....

1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus