Label

20.12.08

~ Hari – Hari Rana ~

Rana hidup di dunia tawa dan derita. Ia tertawa untuk deritanya. Sewaktu deritanya bertambah, ia semakin mencandu tawa ria. Ia meretas asa bersama orang – orang yang dikiranya teman. Terbang bersama mengecap nikmat dunia yang fana.
Rana memendam wajah ke bantalnya, meringkuk di ranjang, tubuhnya merapat ke dinding. Menahan rasa sakit yang menggila di sekujur tubuhnya. Ayah mengunci pintu kamarnya rapat – rapat. Rana hanya bisa meringis. Sakitnya bercampur pilu ketika mendengar isak tangis ibunya dan amuk ayahnya. Ayah mencaci ibu, memukuli ibu, menyalahkan ibu atas kecanduannya.
“Maafkan aku, Ibu...hentikan, Ayah...” rintihnya. Tak ada yang dapat mendengarnya ia tahu. Tubuhnya terlalu sakit untuk melawan.
***
Rana duduk di taman memeluk kedua lututnya. Tatapan matanya kosong, tubuhnya menggigil. Ia ingin coba semua. Lakukan semua.
“Kunikmati hidup sepenuhnya, kita cuma hidup sekali, bukan?” katanya tanpa memperdulikan kantung matanya atau getar halus jemarinya.
Mata ibu bengkak. Sekujur tubuhnya biru – biru, terkadang telinganya pun mengeluarkan darah dan nanah. Tangannya yang besar karena bengkak, membelai kepala puteri tercintanya. Rana tertidur lelap dalam pangkuan bunda bak bidadari, tergores senyuman manis yang pedih di wajahnya. Ibu menangis, tapi tak ada air mata yang keluar. Air matanya telah mengering. Rana adalah satu – satunya alasan dan semangat mengapa ia masih bertahan hidup.
Ayah seperti iblis. Matanya yang besar melotot, ia berteriak memekakan telinga. Ibu tersudut, badan ibu yang sudah lebam bertambah lebam. Ia berusaha melindungi puterinya dari amuk ayahnya. Ibu menangis menahan rasa sakit, namun Rana tahu luka tubuh Ibu tak seberapa dibanding luka hatinya. Seandainya ia cukup kuat untuk menghentikannya, namun ayah begitu menyeramkan. Terkadang Rana mencoba terus melawan, namun perlawanannya hanya memperburuk keadaan ibunya dan ia menjadi sasaran pemukulan selanjutnya. Rana pun dikunci dalam gudang.
***
Keningnya terasa hangat. Tubuhnya terkulai lemas di atas tempat tidur. Ia tak pantas disalahkan atas apapun. Setiap kali melihat ibu, Rana membenci dirinya. Rana mengecup kening ibu, ia meminta maaf atas segala yang terjadi.
Rana tertawa di atas penderitaannya. Tertawa hingga ia menangis pedih. Bersama teman – temannya melayang mengendarai awan, menjelajah langit, menaklukkan matahari, mengalahkan derita dengan gelak tawa yang membahana. Rana telah kalah, ia kalah oleh rasa pengecutnya, ia berkorban untuk kecanduannya. Bahkan seorang ibu yang selama ini berjuang menahan segala rasa sakit untuknya, tak jua membuatnya mampu berjuang demi hidup yang lebih baik. Ia tak tahu nun jauh di sana, bunda menangisi kepergian puteri tercintanya, kini hidupnya tak bearti apa - apa.
Rana terjatuh dari awan yang dikendarainya, tubuhnya melayang sebelum akhirnya terhempas keras ke bumi. Mengeluarkan busa dari mulutnya hingga tak sadarkan diri. Tiga hari kemudian ia tersadar di sebuah ruangan yang segalanya serba putih dan baunya membuat perutnya mual – mual. Ia teringat akan ibu, dalam benaknya bertanya – tanya, sedang apa ibu? Bagaimana kabar ibu?
Ia ingin pulang, ia ingin memeluk ibu, bersujud menciumi kedua telapak kakinya, dan mengucap beribu kata maaf. Kali ini ia ingin berdiri kokoh di atas kedua kakinya, demi ibu. Seorang dokter menemuinya secara privat. Ia tersenyum lembut pada Rana dan menggenggam tangannya. Genggaman tangan yang hangat itu berubah menjadi dingin ketika seuntai kata berita di sampaikan sang dokter.
“Kamu mengidap HIV/AIDS positif,” tubuh Rana serasa terhempas untuk kedua kalinya ke tanah. Asa baru yang tengah di bangunnya demi menyongsong hari esok yang lebih cerah, menghilang begitu saja bagaikan partikel debu yang tertiup angin.
Hanya ada satu di benakknya, ibu. Hanya ada satu tujuan dalam langkahnya, ibu. Hanya ada satu nama dalam hatinya, ibu. Tak ada yang lebih ingin di ciumnya selain ibu, tak ada yang ingin lebih di peluknya selain ibu. Rana ingin pulang ke pangkuan ibu.
Rumah kosong saat ia sampai di sana. Ibu tak ada di kamarnya, tak ada di dapur, ataupun kamar mandi. Ibu tak ada di mana – mana. Rana meneriakkan dengan lirih, “Ibu...ibu...” dia seperti tersesat di dalam rumahnya sendiri.
Ternyata ibu sudah pindah. Kini rumahnya berada di sebuah petak kecil tanah berukuran 2 x 1 meter. Ibu pun telah memilih meninggalkan dirinya, kembali ke pangkuan pemilik alam semesta beserta isinya. Kali ini Rana menangisi deritanya, ia menangis sejadi – jadinya. Ia berteriak, sekencang – kencangnya. Air mata membanjir menganak sungai di pipinya. Nafasnya terasa begitu sesak. Ia tak sempat mencium telapak kaki bundanya, meminta ampun atas segala kesalahannya. Ibu sudah terlampau terbujur kaku di dalam tanah yang masih merah itu.
Ayah pun meringkuk di balik jeruji besi. Ia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Ia meminta maaf atas kekhilafannya pada Rana saat Rana mengunjunginya. Rasa pedih di hati Rana tak dapat tertahankan, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain memaafkan di sisa hidupnya.
Malam – malam panjang dan hari – hari derita. Hari – hari Rana. Tak ada lagi tawa di atas derita, tak ada lagi derita yang ditertawakan. Melihat ke masa lalu, Rana menyadari konsekuensi pilihannya, tapi tak menyadari penuh apa hukumannya. Rana tak ingin menatap kembali masa lalunya, ia ingin bergerak dua kali lebih cepat sebelum waktu habis berputar. Ia harus memburu waktu, menebus dosa – dosanya. Di dengarkan jantungnya berdegup. Ia bertanya – tanya bila tiba saat berhenti detaknya. Usianya baru 14 tahun, jalan hidup yang dulu dilihat masih panjang, sekarang terlihat begitu pendek. Pada setiap remaja yang ditemuinya, ia berujar,
“Kita hidup cuma sekali, jangan sia – siakan hidupmu.”
***
Aisya, Sudut sepi, 25 Januari 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar