Label

12.3.10

TIDAK MAU

TIDAK MAU!
Haruskah saya berteriak agar mereka dengar? Dengar, saya tidak mau. sudah. Tak perlu tanyakan apa sebabmusababnya. Kenapa kalian tak henti mendesak. Kenapa kata "Tidak" adalah tabu dalam budaya kita?


Tidakkah boleh orang berkata tidak? tidak kah boleh orang memiliki alasan sendiri yang terkadang tak ingin dibagi? Kata tidak selalu berarti miring di banyak telinga orang - orang kita. Kata tidak selalu identik dengan keegoisan. Mengapa harus begitu?
Saya TIDAK MAU, saya ingin sendiri saja, saya ingin mendengar apa yang hati saya mau dan sekarang dia hanya ingin berjalan pada jalan yang berbeda. Tidak lagi seperti dulu. Saya lelah, saya ingin menyimpang, mengambil jalan - jalan yang belum pernah di lewati.
Sekali lagi tidak. Tolong dengarkan. Ibu, Ayah, Kakak, Teman,dan aku.... saya tidak mau. Mereka tak menerima jawaban tidak, menitah saya untuk berpikir ulang. Saya LELAH berpikir terus. Saya ingin berjalan begitu saja. Dalam sakit, rintih, kenyamanan ruang sendiri, mengejar temaram yang semakin menjauh. Kenapa tak mau dengar.
Bahkan dalam diri saya....Seorang AKU berkhianat, tak mau mendengar saya berkata TIDAK.

Maka pada suatu pagi hari ia ingin
sekali
menangis sambil berjalan tunduk
sepanjang lorong itu
Ia ingin pagi itu hujan turun
rintik-rintik
dan lorong sepi agar ia bisa berjalan
sendiri saja
sambil menangis dan tak ada orang
bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit
berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat
tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri
dalam hujan rintik-rintik di lorong
sepi pada suatu pagi.
(Sapardi Djoko Damono - Pada Suatu Pagi Hari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar