Label

16.7.10

Trip to Malang - Semeru (Part 1)


Menurut legenda seperti yang dipercaya masyarakat Jawa dan tertulis di sebuah kitab kuno Tantu Pagelaran, Pulau Jawa pada suatu saat dahulu mengambang di laut luas dan terombang - ambing ombak. Para Dewa memutuskan untuk memakukan pulau Jawa dengan cara memindahkan gunung Meru di India ke pulau Jawa. Dewa Wisnu yang menjelma menjadi kura - kura raksasa menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahmana yang menjelma menjadi ular panjang melilitkan tubuhnya pada gunung dan kura - kura sehingga gunung tersebut dapat diangkut dengan aman. Awal mula para dewa meletakkan gunung itu di bagian barat pulau jawa, namun mengakibatkan bagian timur jawa terangkat ke atas. Kemudian gunung itu dipindahkan ke bagian timur tetapi pulau jawa tetap miring, akhirnya para dewa memotong sebagian dari gunung itu dan meletakkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama gunung Penanggungan dan bagian utama gunung Meru sekarang dikenal dengan nama Semeru adalah tempat bersemayamnya dewa Shiwa. Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa dan sarana penghubung antara langit dan bumi. Oleh sebab itu gunung Semeru dihormati oleh masyarakat hindu.

Semeru adalah gunung tertinggi di pulau jawa, ketinggiannya mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan tertinggi ke-18 di Indonesia setelah Rinjani (3.726m dpl) sedangkan posisi pertama gunung tertinggi di Indonesia adalah gunung Wetar (5.282m dpl) yang terletak di Maluku. Dahulu kala Gunung Semeru berhimpitan dengan gunung Tengger dan menjadi gunung tertinggi di pulau Jawa (4.000m dpl), tapi kemudian gunung Tengger meletus sebanyak 2 kali  yang mengakibatkan hamparan laut pasir luas dan cekungan kawah. Kemudian muncul bukit - bukit baru yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Watangan, Widodaren, Kursi, Segara Wedi Kidul, Segara Wedi Lor, Batok, dan Bromo.
Pada postingan saya berjudul "Ngileeeer (harus bisa ke sini)" tanggal 10 maret 2010, saya mencantumkan nama tempat: Semeru. Eng ing eng, kesampaian juga saya ke sana. Meski yah, belum berhasil menjejakkan di puncak tertinggi pulau jawa, Mahameru. Ternyata tidak sekuat yang saya prediksikan, fisik saya belum mampu menunjang berjalan kaki sejauh 17 km lebih itu dengan medan yang bervariasi. Saya hanya mampu sampai di titik terakhir sebelum mendaki ke puncak, yaitu di Kalimati (2700m dpl). Tengah malamnya teman - teman saya berangkat muncak, saya meringkuk berselimut sleeping bag di tenda. Tapi saya tetap bersyukur, saya masih bisa keluar hidup - hidup dan kembali ke rumah. Oke, obsesi selanjutnya ya sehabis lulus saya mau muncak ke Semeru. Kebut skripsi berartiiiiiiii....cihuy!

Perjalanan saya ke timur pulau jawa di mulai dari tanah kelahiran saya di barat pulau jawa, Bandung. Rencana saya dan teman - teman mau naik kereta Malabar Bandung - Malang (Rp. 90.000,- kelas ekonomi) dari St. Hall, tapi seperti biasa rencana selalu bisa gugur oleh kesalahan teknis. Seperti, berangkat santai dari rumah satu jam sebelum keberangkatan kereta dan belum antri buat beli tiket ditambah kota Bandung adalah kota yang kemacetannya merajalela di mana - mana. Alhasil, ketinggalan kereta lah kami semua. Saya males kalau perjalanan di tunda besok, wong kita semua udah bawa beban tas yang berat jadi saya pikir lebih baik kejar kereta yang malam saja dengan tujuan Kediri. Semua setuju dan kami berangkat naik KRL jam 4 sore menuju statsiun Padalarang dan beli tiket kereta ekonomi Kahuripan Bandung-Kediri, supaya dapet tempat duduk sengaja kami naik dari ststsiun Padalarang, tempat pertama Kahuripan diberangkatkan. Tiket Kahuripan Bandung-Kediri Rp. 38.000,- dan KRL Bandung-Padalarang Rp. 5000,-. Sampai di Padalarang sekitar jam 5 sore, jam 8 malam kereta kahuripan meluncur ke arah timur. 
P.S: Ibu saya ngga tahu kalau saya ketinggalan kereta yang menyebabkan molornya keberangkatan saya ke Malang. Biar beliau ngga khawatir, saya sengaja tidak memberitahukan hal ini, jadi beliau tahunya saya berangkat jam 15.30 dengan kereta tujuan langsung ke malang. Heuheu. Sssst...ah, jangan bilang - bilang!

Wuahhh...Kediri itu jauh ya. Apalagi naek kereta ekonomi, tapi beginilah seninya jalan - jalan versi ngga punya duit. We're not buying things, we buy experience! Murah meriah plus pengalaman yang takkan luntur oleh waktu. Kerennya kalau naek kereta ekonomi, kita bisa menebak ada di daerah mana dengan mendengar logat para penjual asongan yang mondar - mandir di gerbong. Kalau penjual menjajakan Mizone dengan logat seperti ini, "Mijon...Mijon..." itu artinya kita masih di daerah Sunda. Tapi kalau penjualnya dengan logat seperti ini, "Mison....Mison..." itu artinya kita sudah masuk ke daerah Jawa. Kalau sudah banyak yang jual nasi pecel, kemungkinan kita sudah mau dekat Jawa timur. Hahahaha...asoy. Oh ya, nasi pecelnya enak loh, daripada nasi ayam yang ga jelas ayamnya atau makanan kereta yang muahal. Seru naik kereta ekonomi, selama bisa tahan panas, sesak, dan nahan pipis. Well, pantat saya akhirnya terbebas dari panas bangku kereta dan mendarat di statsiun Kediri jam 1 siang, Bandung - Kediri ditempuh dalam waktu 17 Jam pake kereta ekonomi yang selalu banyak berhenti di statsiun kecil dan berhenti untuk mengalah memberi jalan pada keretanya orang - orang yang punya uang lebih. Tujuan pertama saya adalah toilet. Ganti celana pendek, sekaligus pipis. Tujuan selanjutnya yaitu: Malang. Dari statsiun Kediri, kami naik kereta Dhoho tujuan Malang yang berangkat jam 3 sore, tiketnya Rp. 5.500,-. Perjalanan Kediri-Malang selama 4 jam. Keretanya ngaret, jadi baru sampai di Statsiun kota Malang jam 8 malam (24 Jam berkereta menuju Malang!!). Rencana awal, kami mau langsung ke Ranupani dan bermalam di sana, tapi berhubung sudah terlalu malam dan  sudah tidak ada kendaraan menuju Ranupani, kami berjalan - jalan di kota Malang sambil cari sesuap nasi yang murah dan berpikir nginap di mana. Kantor Polsek kah?? Ternyata Tuhan masih sayang pada umatnya, nasib kami terselamatkan oleh seorang teman. Terimakasih Tuhan, Novi mempersilahkan kami untuk bermalam di rumahnya. Bye bye Polsek....

Besok paginya setelah packing dan jamuan makan porsi superior para pendaki gunung di rumah Novi, kami pergi menuju pasar Tumpang, titik awal menuju Semeru. Dari rumah Novi yang dekat statsiun Belimbing, kami naik angkot jurusan Arjosari. Sama pak Supir, kami minta langsung ke pasar Tumpang, pak Supir pun meng-okeh-kan. Per orang harus mengocek saku sebesar Rp. 6.000,-. Dari pasar Tumpang kita harus naik Jeep menuju Ranupani dan tiap orang wajib bayar Rp. 30.000,-, resikonya adalah menunggu lama karena Jeep baru mau pergi kalau kuota penumpang terpenuhi minimal 15 orang. Kalau kita ngga mau nunggu, ya kita bisa carter Jeep tapi resikonya harus merogoh kocek lebih dalam, mungkin bisa sampai ratusan ribu per orangnya. Di Tumpang kita juga mengurus surat perizinan pendakian di kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), di sini di cek kelengkapan kita seperti fotokopi identitas dan surat keterangan sehat, serta mengisi biodata dan nomor kerabat yang bisa dihubungi. Nanti BBTNBTS akan mengeluarkan surat izin pendakian yang harus diserahkan di Resort TNBTS di Ranupani. Di sana kita melapor berapa orang yang mendaki, darimana asalnya, berapa hari pendakian, dan membeli tiket masuk seharga Rp. 1.250,- per orang (harga Pelajar dan Mahasiswa. Umum: Rp. 2500,-) dan asuransi jiwa Rp. 2.000,-. Biaya perizinan yang harus dikeluarkan sekitar Rp. 6.000,- sampai Rp. 7.000,- per orang.  Ini harga lokal loh....kalau harga bule, beda lagi.

2 komentar:

  1. There' no such thing as white lies,sis:) Kereta ekonomi? Hiiiiii... Nahan pipis? Nooooo. Tapi seru juga..

    BalasHapus
  2. Harga bule berapa nih kira2? Rambutku udah dicat pirang dan kulit udah pake produk pemutih soalnya.

    BalasHapus